Kementan Berhasil Antisipasi Musim Paceklik Melalui Solusi Permanen

Update Tanggal : 08 November 2017 , Biro Humas dan Informasi Publik

news

Karanganyar (7/11) - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman berhasil mengantisipasi musim paceklik padi yang bisanya terjadi pada awal dan akhir tahun. Strategi yang berhasil dilakukannya adalah dengan menambah luas areal tanam saat musim tanam yang berlangsung pada bulan Juli- September. Sehingga semua yang dilakukan terukur. Karena menurut Mentan menanam itu bukan merupakan hal yang instan, ada persiapan sebelumnya untuk dijadikan solusi permanen hadapi musim paceklik di Indonesia.

“Strategi yang telah kita lakukan adalah menggenjot produksi dibulan Juli-Agustus-September yaitu tidak boleh tanam di bawah 1 juta hektare, kalau dulu yang ditanam hanya 500 ribu hektare.
Kalau tanam segitu artinya dikali produksi enam ton (setiap 1 hektare) berarti 3 juta ton dibagi dua jadi 1,5 juta ton beras padahal kebutuhan kita 2,6 juta ton," kata Amran saat meninjau kegiatan panen di Desa Waru, Kecamatan Kebakkramat, Kab. Karang Anyar, Jawa Tengah.

Panen dibulan November ini dilaporkan telah mencapai target 1 juta hektare. Hal ini menunjukan bahwa target pada musim tanam kemarin telah berhasil. Sehingga kapasitas produksi beras dapat mencukupi kebutuhan nasional dan harga di pasaran juga dapat dikatakan cenderung stabil.
"Kalau tanam 1 juta hektare dengan produksi 7 ton per hektar maka produksinya dikali 7  ton berarti ada 7 juta ton gabah dan jika dikonversi ke beras akan dibagi dua yaitu 3.5 juta ton produksi beras. Kebutuhan satu bulan 2,6 juta ini artinya ada surplus 900 ribu ton sehingga tidak ada penceklik dan harga stabil," jelas Mentan.

Selain itu sesuai laporan yang diterima Mentan kemarin menyebutkan bahwa beras sudah masuk di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) sebesar 5220 ton. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi kenaikan pasokan sebesar 100 persen. “ Bisanya normalnya yang masuk di PIBC sekitar 2000 -2500 ton beras, sebut Mentan.

Keberhasilan Mentan dalam menghadapi musim paceklik ini juga ditandai dengan harga beli gabah petani yang mengalami kenaikan dan harga beras di konsumen yang cenderung stabil bahkan ada yang turun. Baru-baru ini Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa secara keseluruhan, kelompok bahan makanan tercatat deflasi pada periode ini sebesar 0,45%, karena turunnya harga sejumlah komoditas. Jika dibandingkan tahun lalu sebesar 0,65. “ Deflasi yang terjadi pada musim paceklik ini luar biasa, bisanya yang terjadi sebelumnya adalah inflasi besar-besaran, “ tegas Mentan

Dalam kesempatan tersebut Mentan juga menjabarkan beberapa strategi lainnya yang dilakukan untuk menghadapi musim paceklik diantaranya melakukan mekanisasi pertanian, membangun pompa, embung, irigasi, sumur dangkal dan dalam, serta membangun Rain Water Harvesting (RWH), 
 
“Berkat mekanisasi pertanian menggunakan combine harvester yang dulunya panen membutuhkan tenaga 20 orang sekarang hanya butuh 1 orang selama 3 jam sehingga dapat mempercepat waktu tanam dan panen“ jelas Mentan

Berita Lainnya

+ ARSIP BERITA

Sinergi Aksi Informasi dan Komunikasi Publik 2017
23/11/2017
news

Palembang, (22/11) - Dalam rangka meningkatkan integrasi dan koordinasi Kementerian/Lembaga di pusat dengan Pemda provinsi dan kabupaten/kota dalam pembangunan dan pengembangan….

Dirjen PKH Tegaskan Ekspor Produk Peternakan Indonesia Siap Tembus Pasar MEA
22/11/2017
news

Malaysia,- Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita menegaskan ekspor produk peternakan Indonesia dipastikan….

Dilaut Berjaya di Darat Sejahtera, Pekan Poros Maritim Berbasis Rempah Resmi Dibuka

Panen Padi di Maros, Mentan Paparkan Rumus Solusi Pertanian

Jaga Produksi Cabai dan Bawang Merah, Inovasi Petani Purbalingga Bisa Ditiru

Kalsel Siap Wujudkan Nawa Cita Sektor Pertanian

Kementan Programkan Pertanian Perkotaan

Luar Biasa, Panen di Lebak 100 Ha

Kucurkan Bantuan untuk Petani Barito Utara, 100 M dan Fokus Tanam Jagung