Neraca Perdagangan Sektor Pertanian Tumbuh 70 Persen

Update Tanggal : 05 December 2017 , Biro Humas dan Informasi Publik

news

Jakarta - Implementasi kebijakan dan program terobosan peningkatan swasembada pangan di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman secara nyata telah meningkatkan produksi pangan strategis sekaligus kesejahteraan petani. 

Berdasarkan Angka Ramalan (ARAM) II hasil sinkronisasi BPS dengan Kementerian Pertanian (Kementan), produksi padi tahun 2017 sebesar 81,3 juta ton atau naik 15 persen dibanding 2014. Begitu pun produksi jagung tahun 2017 sebesar 27,9 juta ton naik 37 persen, aneka cabai 1,90 juta ton naik 1,5 persen dan bawang merah 1,42 juta ton naik 15,3 persen dari tahun 2014. 

Kemudian, data BPS menyebutkan jumlah penduduk miskin di pedesaan turun 842 ribu jiwa atau turun 4,7 persen dari semula Maret 2015 sebanyak 17,94 juta jiwa turun 17,10 juta jiwa pada Maret 2017.

Menurut Kepala Subbidang Data Ekonomi Pertanian, Pusat Data dan Sistem Informasi, Kementan, Abiyadun, implementasi kebijakan dan program terobosan Mentan Amran tidak sebatas berdampak pada peningkatan produksi dan kesejahteraan petani. Hal yang mengejutkan yakni berdampak pada membaiknya kinerja neraca perdagangan sektor pertanian.

“Berdasarkan data BPS, nilai neraca perdagangan sektor pertanian Januari hingga Oktober 2017 sebesar USD 13,37 miliar atau tumbuh sebesar 70 persen dibanding periode yang sama di tahun 2016 yang nilainya hanya USD 7,86 miliar,” demikian jelasnya di Jakarta, Senin (3/12/201).

Abiyadun membeberkan, pertumbuhan neraca perdagangan sektor pertanian yang cukup besar ini dipengaruhi oleh volume ekspor yang tumbuh mencapai 22,57 persen. Bahkan volume impor turun 0,46 persen.

“Tentu ini prestasi yang membanggakan karena sektor pertanian sebagai variabel penting yang meningkatkan nilai perdagangan Indonesia di pasar dunia,” ujarnya.

Adapun beberapa komoditas pangan yang berkontribusi besar meningkatkan neraca perdagangan pertanian tersebut, di antaranya beras konsumsi, kedelai, bawang merah, daging sapi, daging ayam, telur unggas, gula rafinasi putih, pala, kelapa, kelapa sawit dan kopi. Volume ekspor semua komoditas ini pada bulan Januari hingga Oktober 2017 mengalami pertumbuhan positif dan volume impornya turun dibandingkan periode yang sama tahun 2016.

“Misalnya, pada bulan Januari hingga Oktober 2017, ekspor beras konsumsi mencapai 3.434 ton sementara pada periode yang sama tahun 2016 hanya 79 ton, sehingga ekspor tumbuh mencapai 4.227 persen dan impor turun 100 persen,” papar Abiyadun.

Selain beras konsumsi, komoditas pangan yang mengalami pertumbuhan ekspor yang fantastis yakni bawang merah. Volume ekspor bawang merah bulan Januari hingga Oktober 2017 sebesar 5.479 ton sedangkan pada Januari hingga Oktober 2016 hanya 625 ton. 

“Artinya telah terjadi pertumbuhan ekspor bawang merah sebesar 700 persen,” tegas Abiyadun.

Berita Lainnya

+ ARSIP BERITA

Mentan Luncurkan Program BEKERJA di Jawa Timur
23/05/2018
news

Jember, 23 Mei 2018 - Badan Pusat Statistik (BPS) merulis data total penduduk miskin Indonesia di desa tahun  2017 mencapai 16,31 juta orang. Angka ini turun dibanding tahun….

Tidak Ingin Petani Miskin, Mentan BEKERJA
23/05/2018
news

Bondowoso, 22 Mei 2018 - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman terus bekerja guna mengentaskan kemiskinan. Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (BEKERJA) kali ini….

Kementan Dukung Pupuk Indonesia Revitalisasi Pabrik dan Tambah Pasokan NPK 2,4 Juta Ton

Pengelolaan Irigasi dan Drainase Mendukung Ketahanan Pangan

Sektor Perkebunan Mampu Tampil Sebagai Penghasil Devisa Negara

Kementan : Pemerintah Remajakan Sawit Rakyat

ISO SMAP, Karantina Denpasar Anti Suap!

Regulator Karantina Dunia Berbagi Pengalaman di Bali

Revitalisasi Serapan Gabah Petani untuk Memperkuat Cadangan Beras Pemerintah