Serius Kembangkan Sapi Belgian Blue di Indonesia, Kementan Gandeng Perguruan Tinggi

Update Tanggal : 08 February 2018 , Biro Humas dan Informasi Publik

news

Kementerian Pertanian serius mengembangkan sapi Belgian Blue di Indonesia, dan menargetkan pada tahun 2019 akan lahir Belgian Blue sebanyak 1.000 ekor. “Sapi Belgian Bue ini diharapkan dapat membantu upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi daging sapi di Indonesia melalui peningkatan mutu genetik ternak,” kata I Ketut Diarmita saat acara Penandatangan Nota Kesepahaman dan Kesepakatan Bersama pengembangan Sapi Belgian Blue di Indonesia antara Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan Universiats Gadjah Mada (UGM) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) hari ini tanggal 05 Februari 2018 di Kantor Ditjen PKH. 

“Kita gandeng Perguruan Tinggi yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam mengembangkan sapi Belgian Blue di Indonesia agar kegiatan ini terarah dan cepat mencapai target,” ungkap I Ketut Diarmita. "Kedepan akan kita tambah kerjasama dengan perguruan tinggi lainnya," tambahnya.

Menurut Ketut Diarmita, kegiatan ini sebagai upaya dalam mempercepat peningkatan populasi dan produksi daging sapi/kerbau agar terjadi lompatan yang signifikan. "Tahun 2026 persiapan untuk ekspor, sehingga harus ada peningkatan baik dari segi kualitas maupun kuantitas," ujar I Ketut Diarmita.

Lebih lanjut disampaikan, Sapi Belgian Blue merupakan salah satu sapi potong rumpun baru masuk ke Indonesia dan belum dikembangkan di masyarakat kita. Untuk itu, peru dilakukan langkah introduksi atau pengembangan sapi tersebut harus memenuhi persyaratan melalui penelitian dan pengkajian, sebelum didistribusikan dan dikembangakan di masyarakat. Sehingga untuk tahap awal lokasi pengembangan akan dilakukan di UPT lingkup Kementerian Pertanian, dan belum melibatkan masyarakat peternak. 

Ali Agus, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada (UGM) mengatakan, UGM sudah lebih awal mengembangkan sapi Belgian Blue. “Penghembangan pure dan cross breed agak beda,” kata Ali Agus. 

Menurutnya, pengembangan Belgia Blue ada beberapa kelemahan dalam pelaksanaannya yakni sering terjadi kesulitan melahirkan, memerlukan tindakan sectio caesarea (SC) pada anak TE. “Perlu kombinasi yang baik antara pure dan cross breed, sehingga pedet  lahir kecil dan besar di luar,” tandasnya. Selain itu juga perlu manajemen pemeliharan dan manajemen pakan untuk mendukung metabolisme tubuhnya agar pertumbuhan otot dapat berkembang secara normal.

Dirjen PKH I Ketut Diarmita mengatakan, perlunya untuk menggandeng dan bersinergi dengan Perguruan Tinggi untuk saling mendukung dan bekerjasama menyatukan persepsi dalam pengembangan sapi Belgian Blue di Indonesia, sehingga hasilnya lebih cepat.

“Saya berharap dalam pelaksanaan pengembangan sapi Belgian Blue ini, baik UPT pelaksana dan Perguruan Tinggi (UGM dan IPB) dapat melaporkan progres/hasil perkembangannya,” tutur I Ketut Diarmita. “Di tingkat implementasi yang bertanggungjawab Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak dan koordinator di lapanganm adalah Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang,” tambahnya. 

"Saya berharap kita semua dapat saling bahu membahu dalam menjalankan tugas dan memberikan dharma bakti sesuai dengan bidang keahlian masing-masing," kata I Ketut Diarmita. "Dengan adanya kerjasama yang terarah dan terencana ini, kita yakin akan dapat berbuat banyak dalam mewujudkan keinginan serta cita-cita kita bersama untuk mewujudkan Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia tahun 2045", pungkasnya.

Berita Lainnya