Tren Meningkat, Talas "Gatal” Komoditas Unggulan Ekspor Baru


Belawan (4/4) - Petugas Karantina Belawan, Amos Sudin Silalahi melaporkan bahwa hari Jumat (6/4) telah melepaskan  6 ton Talas ( Colocasia esculenta L. Schott) di pelabuhan Belawan. Adapun pemeriksaan yang dilakukan sesuai prosedur baku karantina pertanian yakni meliputi pemeriksaan administrasi, pemeriksaan fisik, pengambilan sampel dan uji laboratorium. 

Setelah dinyatakan sehat, Phytosanytari Certificate atau surat kesehatan tumbuhan sebagai persyaratan ekspor negara tujuan diterbitkan.

Talas adalah tumbuhan herba, memilik umbi yang disebut bonggol, tumbuh di bawah tanah dan memiliki banyak jenis, bentuk dan warna pada tumbuhan ini.  Hal yang perlu diperhatikan pada Talas sebagai bahan pangan, adalah timbulnya rasa gatal. Hal ini disebabkan adanya kalsium oksalat yang ada didalamnya. Tapi hal ini tidak perlu dikawatirkan karena bisa diatasi setelah diproses dan tidak menimbulkan gangguan serius.

Seiring perkembangan industri kuliner,  talas tidak hanya dimakan setelah direbus atau digoreng, tapi talas dijadikan sebagai olahan makanan  seperti keripik, bubur, sayur lompong, buntil dan lain-lain dengan rasa yang bangak digemari.

Salah satunya, perusahaan IWE asal Malaysia ketagihan si Talas "gatal" dari Medan, pengiriman talas ini hampir menjadi rutinitas setiap bulannya. Dengan pendampingan proses ekspor dari Karantina  Belawan dalam hal penjaminan kesehatan dan keamanan dari organisme pengganggu tumbuhan dan sesuai dengan izin pemasukan yang dipersyaratkan negara tujuan ekspor.

Dari catatan Sistem Informasi Badan Karantina Pertanian, ekspor komoditas ini mencapai 29,106 ton, dan di tahun 2018 sampai dengan akhir Maret sudah tercatat 1.106 ton dengan tujuan pelbagai negara lainnya. Potensi pertanian Indonesia ini akan terus didorong Kementerian Pertanian sebagai sumber devisa lainnya bagi pembangunan nasional.




Berita Lainnya