KEMENTERIAN PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA

ID EN

Produksi Gula 2026 Tembus 3,02 Juta Ton, Naik 13 Persen Menuju Swasembada 2027


Rabu, 26 Agustus 2026 09:37:41 M. Digi

Jakarta � Produksi Gula Kristal Putih (GKP) nasional pada 2026 diperkirakan mencapai 3,02 juta ton, meningkat sekitar 350 ribu ton atau 13,1 persen dibandingkan 2025. Kenaikan produksi tersebut berjalan seiring dengan bertambahnya luas areal tebu, meningkatnya produksi tebu, serta membaiknya rendemen, memperkuat fondasi Indonesia menuju swasembada gula konsumsi.

Berdasarkan Taksasi Tengah Giling Tahun 2026, produksi GKP nasional diperkirakan mencapai 3.018.459 ton, naik dari 2.668.075 ton pada 2025. Pada periode yang sama, luas areal tebu meningkat dari 563.357 hektare menjadi 585.390 hektare, sedangkan produksi tebu naik dari 39.069.968 ton menjadi 40.195.133 ton.

Perbaikan juga terlihat pada rendemen tebu. Taksasi Tengah Giling 2026 mencatat rendemen mencapai 7,51 persen, lebih tinggi dibandingkan 6,83 persen pada 2025. Peningkatan rendemen menjadi faktor penting karena menunjukkan semakin optimalnya gula yang dapat dihasilkan dari bahan baku tebu.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa peningkatan produksi gula harus dibangun secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Pemerintah tidak hanya mengejar tambahan produksi, tetapi juga memastikan peningkatan produktivitas memberikan keuntungan yang lebih baik kepada pekebun.

�Kami melakukan pembenahan dari hulu hingga hilir, mulai dari benih, pola tanam, sistem hilirisasi, hingga aspek pemasaran. Tujuannya sederhana, pekebun harus mendapatkan keuntungan,� kata Mentan Amran.

Dalam kesempatan tersebut, Mentan Amran juga menargetkan produksi gula nasional dapat meningkat hingga sekitar 3 juta ton pada 2026, seiring perluasan dan optimalisasi lahan tebu. Angka Taksasi Tengah Giling 2026 yang kini mencapai 3,018 juta ton menunjukkan produksi bergerak pada kisaran target tersebut.

Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto, mengatakan peningkatan produksi tidak cukup ditempuh melalui penambahan luas areal. Produktivitas tanaman dan kualitas bahan baku harus ditingkatkan secara bersamaan.

�Target swasembada gula konsumsi tidak cukup hanya dengan menambah luas tanam. Yang kita dorong adalah peningkatan produktivitas dari hulu, mulai dari penggunaan benih unggul bersertifikat, perbaikan budidaya, bongkar ratoon, dukungan sarana produksi, hingga penguatan pendampingan kepada pekebun,� ujar Heru.

Produksi gula nasional pada 2026 ditopang 58 pabrik gula, terdiri atas 39 pabrik gula BUMN dan 19 pabrik gula swasta, dengan jumlah pekebun tebu sekitar 731.705 orang. Angka tersebut menunjukkan penguatan industri gula nasional tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gula, tetapi juga menyangkut keberlanjutan usaha ratusan ribu pekebun.

Salah satu langkah strategis Kementan adalah pengembangan kawasan tebu sekitar 97.970 hektare pada 2026 dengan dukungan anggaran sekitar Rp1,448 triliun. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat produktivitas kebun, termasuk melalui bongkar ratoon terhadap tanaman tebu yang telah berumur tua atau mengalami penurunan produktivitas.

�Bongkar ratoon memberikan dua manfaat sekaligus. Pekebun memperoleh dukungan untuk menekan biaya pengadaan benih, sementara tanaman baru diharapkan mampu memberikan produktivitas yang lebih baik. Jadi, intervensinya diarahkan agar produksi meningkat dan usaha tani pekebun menjadi lebih efisien,� kata Heru.

Percepatan peremajaan tersebut menjadi semakin penting setelah pemerintah meningkatkan target swasembada gula. Dalam Panen Raya Tebu di Kabupaten Malang pada 17 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto meminta target swasembada gula yang sebelumnya diproyeksikan empat tahun dipercepat. Mentan Amran menyatakan target tersebut dapat dikejar menjadi dua tahun dengan mempercepat program peremajaan tebu yang sebelumnya dirancang sekitar 100 ribu hektare per tahun.

Untuk memperkuat sisi hulu, pemerintah pada 2026 juga menyiapkan sekitar 5,9 miliar mata benih tebu unggul. Bantuan tersebut ditargetkan mendukung pengembangan tebu sekitar 99.547 hektare di 10 provinsi dan 74 kabupaten.

Selain benih dan peremajaan tanaman, pemerintah memperkuat ketersediaan air. Sebanyak 1.000 unit irigasi perpompaan dialokasikan pada 2026 untuk komoditas tebu guna menjaga produktivitas terutama di wilayah yang menghadapi risiko kekeringan.

Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan produktivitas tebu mencapai 93 ton per hektare dengan rendemen 11,20 persen pada 2030, sebagaimana arah percepatan swasembada gula nasional dan penyediaan bioetanol sebagai bahan bakar nabati dalam Perpres Nomor 40 Tahun 2023.

Dengan posisi rendemen 2026 sebesar 7,51 persen, peningkatan produktivitas dan rendemen masih menjadi ruang besar yang harus dikejar. Karena itu, transformasi produksi tidak cukup hanya melalui perluasan areal, tetapi perlu ditopang peremajaan tanaman, varietas unggul, budidaya yang lebih baik, mekanisasi, dan penguatan industri pengolahan.

Di sisi hilir, peningkatan produksi juga harus memberikan kepastian pasar bagi pekebun. Kementan terus memperkuat koordinasi lintas kementerian untuk menjaga keseimbangan pasokan dan distribusi, termasuk mengawasi peredaran gula rafinasi agar sesuai peruntukannya dan tidak menekan pasar gula produksi dalam negeri.

�Peningkatan produksi harus memberikan manfaat nyata bagi pekebun. Karena itu, selain memperkuat produktivitas di tingkat kebun, kami juga terus berkoordinasi lintas kementerian untuk menjaga keseimbangan pasokan, distribusi, dan harga,� tutur Heru.

Kementan juga memperkuat mitigasi terhadap perubahan iklim melalui informasi BMKG dan sistem Si-PERDITAN. Informasi tersebut digunakan sebagai dasar menentukan langkah antisipasi di wilayah yang berpotensi mengalami gangguan iklim sehingga peningkatan produksi dapat dipertahankan secara berkelanjutan.

Dengan produksi GKP yang diperkirakan meningkat 13,1 persen menjadi 3,02 juta ton, areal tebu mencapai 585.390 hektare, produksi tebu 40,20 juta ton, dan rendemen naik menjadi 7,51 persen, basis produksi gula nasional semakin menguat. Pemerintah selanjutnya memacu produktivitas, peremajaan tebu, penyediaan benih unggul, irigasi, serta penguatan tata niaga agar peningkatan produksi bermuara pada swasembada sekaligus kesejahteraan pekebun.


Aksesibilitas

Kontras
Saturasi
Pembaca Layar
D
Ramah Disleksia
Perbesar Teks
Jarak Huruf
Jarak Baris
Perataan Teks
Jeda Animasi
Kursor
Reset