Kementan Dorong Potensi Lokal Papua Jadi Kekuatan Baru Pangan Indonesia
Senin, 7 September 2026 10:12:51 M. Digi
Sorong � Potensi pangan lokal dan sumber daya pertanian yang melimpah menempatkan Tanah Papua sebagai salah satu kawasan strategis dalam penguatan ketahanan pangan nasional. Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pengembangan potensi tersebut berbasis masyarakat, mulai dari sagu, ubi, hingga pengembangan sawah, agar Papua mampu memenuhi kebutuhan pangannya sekaligus berkontribusi bagi wilayah lain.
Komitmen tersebut mengemuka dalam PAPEDA Summit 2026 yang berlangsung pada 2�4 September 2026 di Sorong, Papua Barat Daya. Forum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat adat, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendorong pembangunan Papua yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal.
Pembangunan pertanian di Tanah Papua tidak semata diarahkan untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga untuk mengoptimalkan kekayaan sumber daya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Karena itu, pengembangan pangan strategis berjalan beriringan dengan penguatan pangan lokal serta pelibatan masyarakat setempat sebagai pelaku utama pembangunan.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa pembangunan kemandirian pangan di Papua harus bertumpu pada potensi yang telah dimiliki masyarakat.
�Kita ingin membangun kemandirian pangan di seluruh pulau, termasuk Papua. Pangan untuk saudara-saudara kita di Papua harus dipenuhi dari Papua sendiri. Beras, sagu, ubi, dan pangan lokal lainnya harus kita kembangkan bersama masyarakat setempat,� kata Mentan Amran.
Penguatan potensi pangan Papua juga mendapat dukungan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Pemerintah mendorong pengembangan ekosistem pertanian modern, cetak sawah berbasis komunitas, serta optimalisasi potensi lahan daerah sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian pangan di Tanah Papua.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengapresiasi penyelenggaraan PAPEDA Summit 2026 yang mempertemukan berbagai pihak untuk memperkuat pembangunan Papua.
�Saya sungguh memberikan apresiasi yang tinggi atas penyelenggaraan PAPEDA Summit yang dihadiri lebih dari seribu orang. Ini sesuatu yang membanggakan dan luar biasa untuk mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, pemerataan pembangunan, dan keterlibatan masyarakat adat,� ujar Zulkifli.
Menurut Zulkifli, Papua memiliki peluang besar untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, bahkan berpotensi menjadi pemasok pangan bagi wilayah lain di kawasan timur Indonesia.
�Kita ingin Papua ini bisa swasembada pangan, kita akan kembangkan hampir satu juta sawah sehingga diharapkan dengan mekanisasi seluruh Papua, pangannya itu bisa dipenuhi dari Papua sendiri. Kalau itu berhasil, itu bisa mensuplai kebutuhan seluruh Papua sampai Maluku, tidak perlu lagi datang dari jauh. Kita harus memajukan Papua,� tegas Zulkifli.
Sementara itu, Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan Hermanto mengatakan kekayaan sumber daya pertanian Tanah Papua merupakan modal penting untuk membangun sistem pangan yang kuat dari wilayah timur Indonesia.
�Sektor pertanian di Tanah Papua memiliki potensi yang sangat luar biasa dan tidak ada yang meragukan hal itu. Meskipun pencapaian swasembada pangan nasional terus ditargetkan dan diakselerasi, pekerjaan kita belum selesai. Kita harus memastikan seluruh wilayah di Tanah Papua betul-betul bisa mandiri pangan secara lokal dan memberikan kontribusi besar bagi pangan nasional,� tutur Hermanto.
Hermanto menegaskan, pengembangan pertanian Papua harus menempatkan masyarakat setempat sebagai bagian utama dalam setiap proses pembangunan. Pendekatan tersebut diterapkan melalui program cetak sawah berbasis komunitas yang telah berjalan sejak 2024 dengan tetap menghormati hak ulayat dan kearifan lokal.
�Program cetak sawah berbasis komunitas ini dibangun di atas empat pilar utama. Pertama, mengedepankan kesepakatan hak ulayat tanpa adanya pengambilalihan atau perampasan lahan. Kedua, menggerakkan ekonomi masyarakat Papua secara langsung. Ketiga, memperkuat kelembagaan SDM lokal melalui pembentukan Brigade Pangan yang mengonsolidasikan pemuda tempatan dengan dukungan mekanisasi modern. Serta keempat, pengawalan program secara holistik bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan guna meningkatkan produksi sekaligus kesejahteraan petani,� tambah Hermanto.
Pendekatan berbasis potensi lokal tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan pembangunan pertanian Papua tidak hanya menghasilkan peningkatan produksi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat pemilik lahan. Kementan mendukung masyarakat untuk mengoptimalkan potensi pertanian melalui penyediaan teknologi, mekanisasi, pembangunan infrastruktur pertanian, benih, serta pendampingan.
Dengan kekayaan pangan lokal dan potensi lahan yang dimiliki, Papua memiliki peluang untuk membangun sistem pangan yang tidak bergantung pada pasokan dari wilayah lain. Pengembangan sawah berjalan bersama dengan penguatan komoditas pangan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, sehingga kemandirian pangan Papua dapat tumbuh dari kekuatan lokalnya sendiri.
Melalui PAPEDA Summit 2026, Kementan mendorong semakin kuatnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat adat, dan para mitra pembangunan untuk mengembangkan sistem pangan Papua yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan. Optimalisasi potensi lokal tersebut diharapkan menjadikan Papua tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, tetapi juga tumbuh sebagai salah satu kekuatan baru pangan nasional.