Gencarkan Padi Gogo di Maluku, Kementan Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Jumat, 1 Agustus 2025 11:02:51 SZ
Ambon - Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat realisasi program strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Salah satunya dilakukan melalui kegiatan Penanaman Padi Gogo yang dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, di Desa Nusaniwe, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Provinsi Maluku (31/7/2025).
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah konkret Kementan dalam mendorong ketahanan pangan nasional sekaligus mengantisipasi potensi krisis pangan global. Penanaman padi gogo (lahan kering) merupakan inovasi adaptif untuk menjawab keterbatasan lahan sawah serta tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.
"Saya bersyukur kita dapat lakukan tanam padi gogo bersama. Kegiatan ini mencerminkan komitmen bersama antara pemerintah pusat, daerah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan, inklusif, dan adaptif terhadap tantangan ke depan," ujar Roni.
Padi gogo sendiri merupakan jenis tanaman padi yang dibudidayakan pada lahan kering. Kementan menggencarkan penanaman padi gogo di lahan non-irigasi sebagai bagian dari strategi peningkatan produksi pangan nasional. Pada 2025, program ini ditargetkan menjangkau 500.000 hektare di lahan peremajaan sawit (PSR), lahan perkebunan, dan kawasan perhutanan sosial.
Untuk Provinsi Maluku, ditargetkan penanaman padi gogo seluas 11.484 hektare dengan pengusulan CPCL seluas 9.311 hektare, sedangkan distribusi benih ke petani seluas 8.660 hektare. Roni meminta agar realisasi segera dilakukan sebelum September 2025, guna mengejar musim hujan.
Langkah-langkah strategis yang selama ini dilakukan telah memperlihatkan hasil. Menurut data BPS, luas panen dan produksi beras nasional mengalami lonjakan. BPS memproyeksikan produksi beras Januari-Agustus tembus 24,97 juta ton.
Capaian ini tak hanya diakui secara nasional, namun juga mendapat pengakuan dari lembaga internasional. Dalam laporan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan produksi beras Indonesia pada musim tanam 2024/2025 mencapai 34,6 juta ton. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di ASEAN, mengungguli Thailand dan Vietnam, serta melampaui target produksi pemerintah sebesar 32 juta ton. Sementara FAO juga mengestimasi produksi padi Indonesia berada di kisaran 35,6 juta ton lebih, menunjukkan kepercayaan global terhadap kinerja pertanian Indonesia.
"Peningkatan ini merupakan buah dari berbagai program strategis seperti Pompanisasi, Optimasi Lahan (Oplah), serta Cetak Sawah Rakyat (CSR). Namun kita tidak boleh lengah. Kita harus terus bekerja keras dan mengoptimalkan produksi dalam beberapa bulan ke depan," tegas Roni.
"Dengan produktivitas rata-rata 2 ton per hektare, maka kita harapkan dapat menghasilkan sekitar 22.968 ton gabah. Ini adalah peluang besar yang harus kita manfaatkan," ujarnya.
Roni juga menekankan pentingnya percepatan pelaksanaan tanam pada musim tanam kedua (MT-II). Ia meminta agar finalisasi CPCL diselesaikan paling lambat Agustus 2025. Dinas Pertanian provinsi dan kabupaten/kota diminta turun langsung ke lapangan untuk memastikan kesiapan lahan, kelembagaan petani, serta distribusi benih secara tepat sasaran.
"Saya tegaskan kembali pentingnya sinergi seluruh pihak. Jika Kadis Kabupaten, Provinsi, TNI dan Petani bersatu, kita akan mengguncang dunia dan membawa Indonesia menuju cita-cita besar sebagai lumbung pangan dunia," pungkasnya.
Program ini merupakan implementasi atas arahan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, yang menekankan pentingnya menjaga produksi dan distribusi pangan nasional. Dalam beberapa kesempatan, Mentan Amran memastikan bahwa sektor pertanian sudah berada pada jalur yang tepat. Di tengah ancaman krisis pangan global, pertanian Indonesia justru mampu menunjukkan lompatan produksi.
"Kondisi pertanian Indonesia berada dalam kondisi aman. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional diperkirakan meningkat signifikan pada periode Januari-Agustus 2025, mencapai 24,97 juta ton. Naik 14,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Stok kita masuk posisi 4,2 juta ton. Kami sampaikan juga kepada seluruh masyarakat bahwa kondisi kita aman karena stok kita tertinggi selama ini,” jelas Mentan Amran.
Melalui perluasan areal tanam padi gogo, Kementan terus membangun sistem pertanian yang lebih adaptif, efisien, dan berdaya saing tinggi. Langkah ini bukan hanya untuk menjawab kebutuhan pangan jangka pendek, tetapi juga sebagai fondasi menuju Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.