Terdepan Salurkan Bantuan Pangan, Masyarakat Aceh Sampaikan Terima Kasih kepada Mentan Amran
Kamis, 15 Januari 2026 14:11:31 SZ
Lhokseumawe — Pemerintah dan masyarakat Aceh menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman beserta jajaran Kementerian Pertanian (Kementan) atas respons cepat dan konsistensi dalam menyalurkan bantuan pangan bagi korban bencana di berbagai wilayah Aceh. Mentan Amran disebut sebagai salah satu menteri yang paling intens menyalurkan bantuan ke Aceh.
Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, saat kegiatan Groundbreaking Rehabilitasi Lahan Sawah Terdampak Bencana di Lhokseumawe, Aceh, Kamis (15/1/2026).
“Bapak (Mentan Amran) adalah salah satu menteri yang banyak mengirimkan bantuan sembako pangan ke Aceh. Ini adalah terima kasih pemerintah Aceh dan masyarakat Aceh kepada Bapak,” kata Fadhlullah.
Ia merinci, bantuan pangan dari Kementerian Pertanian telah dikirimkan melalui berbagai moda transportasi, termasuk jalur udara, laut, dan darat. Tahap pertama bantuan dikirimkan menggunakan pesawat Airbus A-400 dengan volume 9,7 ton; tahap kedua menggunakan KRI Banda Aceh (593) dengan volume 120 ton; tahap ketiga menggunakan KRI Surabaya (591) dengan volume 330 ton; tahap keempat menggunakan KRI Makassar (590) dengan volume 140 ton; dan tahap kelima menggunakan 200 truk dengan volume 430 ton yang diberangkatkan dari Medan.
Menurut Fadhlullah, bantuan pangan tersebut sangat krusial di tengah kondisi bencana yang menyebabkan kerusakan besar pada permukiman dan lahan pertanian. Tercatat lebih dari 149 ribu rumah terdampak, dengan puluhan ribu mengalami rusak ringan hingga rusak berat dan hilang. Selain itu, sawah dan kebun di sejumlah kabupaten tertimbun lumpur hingga lebih dari satu meter tepat menjelang masa panen.
“Tetapi pada intinya, semua makanan sembako sudah didapatkan. Kalau tidak bisa mendapatkan lewat jalur sungai, kita drop lewat udara. Alhamdulillah, semua telah mendapatkan. Tinggal tahapan sekarang, Pak Mentan, bagaimana skema untuk membangkitkan pertanian di Aceh ini,” terang Fadhlullah.
Fadhlullah juga menyebutkan bahwa Aceh saat ini memasuki fase penting, yakni pemulihan sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan, setelah tahap tanggap darurat terpenuhi. Ia menyatakan keyakinannya bahwa Kementerian Pertanian memiliki kapasitas dan keahlian untuk membangkitkan kembali pertanian Aceh, meskipun lahan sawah dan kebun mengalami kerusakan parah.
“Bapak sudah melihat sendiri, ini salah satu lahan yang di depan mata tetapi juga terjadi di Pidie Jaya dan di kabupaten lainnya. Yang dulu adalah sawah, itu tertimbun satu meter ke atas, itu ketika mau panen. Kita batas (sawah) saja tidak tahu. Tapi saya yakin itu ahlinya, Bapak Menteri, bagaimana cara untuk membangkitkan pertanian kami dan perkebunan kami di Aceh,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Mentan Amran menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi Aceh, tidak hanya melalui bantuan pangan darurat, tetapi juga melalui program rehabilitasi lahan, pemulihan produksi pertanian, dan dukungan sarana prasarana pertanian agar petani Aceh dapat kembali berproduksi dan bangkit secara berkelanjutan.
“Kami hari ini datang tetapi siang-malam kami pikirkan Aceh sejak bencana sampai hari ini. Duka Aceh adalah duka kita semua. Masalah Aceh adalah masalah kita semua,” kata Mentan Amran.
Untuk diketahui, Kementan terus menyalurkan bantuan pangan kepada masyarakat terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Untuk Aceh, tercatat pengiriman bantuan telah diberikan dalam lima tahap. Melalui bantuan Kementan-Bapanas Peduli, telah disalurkan total 1.029,7 ton bantuan selama 4 Desember 2024—15 Januari 2026 ke Provinsi Aceh.
Selain itu, untuk mendukung percepatan rehabilitasi lahan sawah di Aceh Utara, Kementerian Pertanian memberikan bantuan kepada petani berupa pupuk urea sebanyak 200 ton, benih padi sebanyak 836 ton, traktor roda dua sebanyak 32 unit, dan traktor roda empat sebanyak 11 unit.
“Insyaallah kita kerjakan perbaikan sawah rusak mulai yang ringan, sedang, baru terakhir yang berat. Berat hanya 5 sampai 10 persen. Kami selesaikan yang 90-95 persen agar saudara-saudara kita yang sawahnya kena dampak kita akan perbaiki. Itu ada bantuan benih gratis. Kemudian ini padat karya, rakyat yang bekerja, yang punya sawah bekerja kemudian upahnya dibayar oleh pusat. Kami sebagai penanggung jawab,” jelas Mentan Amran.
Kementan memastikan pendampingan berkelanjutan bagi petani Aceh agar aktivitas pertanian dapat kembali berjalan normal melalui rehabilitasi lahan, pemulihan sarana produksi, serta penguatan ketahanan pangan daerah. Kementan juga menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam mempercepat pemulihan pertanian pascabencana guna menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan petani Aceh.