Panen Raya Bawang Merah di Cirebon, Kementan Pastikan Pasokan Aman Jelang Ramadan hingga Lebaran
Rabu, 4 Februari 2026 20:45:11 Zaki
Cirebon — Kementerian Pertanian memastikan produksi dan pasokan bawang merah nasional dalam kondisi aman menghadapi Ramadan hingga Idulfitri 1447 Hijriah. Jaminan tersebut tercermin dari panen raya bawang merah di Kabupaten Cirebon yang tetap berjalan optimal meski wilayah tersebut mengalami curah hujan cukuptinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus menjaga keseimbangan produksi, distribusi, dan harga pangan strategis agar kebutuhan masyarakat terpenuhi selama hari besar keagamaan.
“Proyeksi produksi pangan strategis nasional guna memastikan kecukupan pasokan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Ramadan dan Idulfitri, sekaligus menggambarkan kondisi harga komoditas pangan di tingkat produsen,” ucap Mentan Amran dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI, Selasa (03/02/2026).
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, Agung Sunusi, mengatakan bahwa di tengah kondisi cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi, produktivitas bawang merah di Kecamatan Pangenan, Cirebon, masih mampu mencapai rata-rata 10 ton per hektare.
“Jika mengacu pada data BPS, rata-rata nasional berada di kisaran 11 hingga 12,5 ton per hektare. Dengan kondisi hujan hampir setiap hari dan cuaca ekstrem, capaian Cirebon ini sudah di atas ekspektasi dan sangat luar biasa,” kata Agung saat pelaksanaan panen raya bawang merah di Desa Ender, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon pada Sabtu (31/1/2026) lalu.
Hal ini sejalan dengan rilis BPS yang mencatat terjadi deflasi sebesar 0,15 persen secara month-to-month pada Januari 2026. Sejumlah komoditas hortikultura dan pangan strategis menjadi pendorong utama deflasi tersebut, termasuk bawang merah yang mengalami panen raya dengan andil deflasi sebesar 0,07 persen.
Lebih lanjut, Agung mencontohkan bahwa dari satu lokasi panen dengan satu hamparan seluas 26 hektare di Desa Ender, berpotensi menghasilkan produksi bawang merah hingga 260 ton. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon dan Champion Bawang Merah setempat, masih terdapat 350 hektare lahan bawang merah yang siap panen hingga Lebaran. Dengan estimasi produktivitas rata-rata 10 ton per hektare, pasokan bawang merah dari Cirebon dinilai cukup untuk mengamankan kebutuhan selama Ramadan hingga Idulfitri.
“Artinya, Kabupaten Cirebon siap mengamankan pasokan bawang merah untuk puasa dan tentunya Lebaran,” tegasnya.
Agung juga menjelaskan bahwa Cirebon telah menerapkan pola tanam berkelanjutan agar produksi tetap terjaga. Katanya, setelah panen, petani langsung melakukan pengolahan lahan dan penanaman kembali tanpa jeda panjang. Saat ini, terdapat sekitar 500 hektare lahan yang telah kembali ditanami.
“Tidak ada istilah lahan tidur. Panen ada, tanam juga ada. Ini sejalan dengan arahan Bapak Menteri Pertanian Amran Sulaiman agar produksi dan harga bawang merah tetap aman dan stabil,” ucapnya.
Selain itu, Agung memastikan kelancaran pasokan dan stabilitas harga bawang merah di tingkat konsumen. Dari sisi distribusi, bawang merah hasil panen Cirebon hanya memerlukan waktu pengeringan sekitar dua hingga tiga hari sebelum dipasarkan, termasuk ke wilayah Jabodetabek.
Untuk harga, Agung menyebut harga bawang merah di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp25.000 per kilogram. Dengan kondisi tersebut, harga di tingkat konsumen diharapkan berada di kisaran Rp35.000 per kilogram, sesuai dengan harga acuan pemerintah.
“Harga berada di rel yang tepat. Petaninya tersenyum, konsumennya juga tenang dan bisa fokus beribadah menyambut Ramadan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Champion Bawang Merah Kabupaten Cirebon, Syaiful, menjelaskan bahwa dalam kondisi normal produktivitas bawang merah dapat mencapai 12—14 ton per hektare. Akibat cuaca ekstrem, rata-rata produksi berada di angka 10 ton per hektare.
“Meski turun, petani masih untung. Dengan luas panen sekitar 350 hektare dan produktivitas 10 ton per hektare, pasokan bawang merah Cirebon aman hingga pasca-Lebaran,” ujar Syaiful.
Ia menambahkan, harga bawang merah di tingkat petani untuk ukuran sedang berada di kisaran Rp25.000 per kilogram, sementara kualitas super di pasaran dapat mencapai Rp30.000 per kilogram. Dengan biaya produksi sekitar Rp15.000–Rp18.000 per kilogram, margin keuntungan petani dinilai masih sangat layak. “Petani untung, konsumen tersenyum. Semua senang,” katanya.
Senada, Ketua Kelompok Tani Makam Wada, Nashori, menyampaikan bahwa pada kisaran harga Rp20.000–Rp25.000 per kilogram, petani sudah berada pada posisi menguntungkan. Namun demikian, ia menyoroti masih kuatnya peran tengkulak dalam rantai perdagangan bawang merah di Cirebon. Ia menyebut sebagian besar bawang merah Cirebon dibeli oleh tengkulak dari Brebes, sehingga di pasar sering dikenal sebagai bawang Brebes meski berasal dari Cirebon. Ke depan, ia berharap adanya dukungan pemerintah berupa permodalan dan fasilitas pergudangan.
“Rata-rata bawang di sini sudah dibeli tengkulak sejak usia tanaman 45 hari, dan transaksi dilakukan langsung di lahan. Harapan kami, Cirebon bisa difasilitasi menjadi kawasan sentra bawang merah seperti Brebes, sehingga nilai tambahnya tetap berada di daerah,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deni, menjelaskan bahwa penurunan produktivitas dari kondisi normal 12–14 ton per hektare menjadi sekitar 10 ton per hektare merupakan dampak langsung dari cuaca ekstrem. Meski demikian, capaian tersebut masih tergolong aman dan menguntungkan bagi petani.
“Dengan luas panen sekitar 350 hektare dan produktivitas rata-rata 10 ton per hektare, pasokan bawang merah Cirebon tetap terjaga untuk memenuhi kebutuhan menjelang Ramadan hingga pasca-Lebaran,” katanya.
Deni menambahkan, dari sisi harga, kondisi di tingkat petani masih berada dalam koridor yang sehat. Namun, tantangan tata niaga seperti ketergantungan pada tengkulak serta keterbatasan permodalan dan fasilitas pascapanen masih perlu diperkuat.
“Masukan dari kelompok tani menjadi perhatian kami. Ke depan, kami akan mendorong fasilitasi pembiayaan dan penguatan pascapanen agar bawang merah Cirebon memiliki identitas sendiri dan mampu bersaing sebagai kawasan sentra,” pungkasnya.