Kementan Gerak Cepat Tangani Kekeringan Pakisjaya, Perkuat Sinergi Atasi Ketersediaan Air dari Hulu
Kamis, 20 Agustus 2026 09:41:55 M. Digi
Karawang � Kementerian Pertanian memperkuat mitigasi kekeringan di sentra produksi padi melalui percepatan penyediaan sumber air dan koordinasi lintas sektor. Langkah ini dilakukan untuk menjaga pertanaman sekaligus memastikan target swasembada pangan tetap berjalan di tengah musim kemarau.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan pemerintah harus bergerak sebelum dampak kekeringan meluas.
�Kita harus bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam,� tegas Mentan Amran.
Sesuai arahan tersebut, Kementan melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) dan Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP), melakukan investigasi lapangan dan rapat koordinasi (rakor) penanganan kekeringan di Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Sabtu (15/8).
Rakor dihadiri Bupati Karawang beserta jajaran, serta Kementerian Pekerjaan Umum yang di antaranya diwakili Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Kepala BBWS Citarum, Ditjen SDA, dan Direktur Operasional Perum Jasa Tirta II.
Rakor dilakukan untuk mencari solusi bersama atas persoalan ketersediaan air, terutama memastikan pasokan dari hulu dapat dikelola dan didistribusikan secara tepat waktu hingga ke lahan pertanian.
Berdasarkan laporan petani dan hasil identifikasi lapangan, sekitar 1.000 hektare sawah di Kecamatan Pakisjaya terdampak kekeringan dan berpotensi meluas seiring menurunnya debit air pada saluran irigasi.
Direktur Jenderal PSP Andi Nur Alam Syah mengatakan, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui intervensi di tingkat lahan. Pengelolaan air dari hulu hingga sawah membutuhkan sinergi seluruh pihak, termasuk penyesuaian pola dan waktu tanam dengan ketersediaan air.
�Hari ini harapannya bukan hanya menyelesaikan di Pakisjaya, tapi seluruh permasalahan air di Jawa Barat, khususnya yang bersumber dari Waduk Jatiluhur. Saat ini air baru bisa mengakomodasi sawah untuk dua kali tanam, sementara petani sudah ingin tanam tiga kali,� ujar Andi.
Menurutnya, keterbatasan anggaran menuntut seluruh pihak memperkuat sinergi dan kedisiplinan dalam pengelolaan air.
�Semua harus sama-sama tertib. Petani juga harus tertib waktunya, kalau waktunya tanam ya tanam. Dengan pembagian air yang tepat waktu, masalah air ini bisa kita carikan solusinya bersama agar swasembada pangan terus terjaga,� katanya.
Sebagai langkah cepat, Kementan sebelumnya telah menyalurkan bantuan pompa air pada Jumat (14/8) di sejumlah titik Kecamatan Pakisjaya. Intervensi menyasar empat kelompok tani dengan total potensi kekeringan sekitar 738 hektare.
Pompa ditempatkan di Desa Solokan, Tanjungpakis, dan Talagajaya, dengan memanfaatkan sumber air dari saluran sekunder, Sungai Macan, Sungai Candi, dan Kali Kubang. Bantuan tersebut diarahkan untuk mempertahankan pertanaman yang masih berjalan sekaligus mendukung musim tanam berikutnya.
�Langkah ini sejalan dengan kebijakan nasional Kementan yang menyiapkan 56 ribu unit pompa air pada 2026 sebagai bagian dari mitigasi kekeringan dan upaya menjaga produksi pangan�, jelas Andi.
Kekeringan ini dipengaruhi musim kemarau, tingginya evaporasi, tidak adanya hujan, serta kondisi jaringan pengairan yang belum optimal. Debit jaringan irigasi sekunder yang rendah, pendangkalan, sampah, dan kondisi jaringan tersier menjadi sejumlah kendala yang teridentifikasi di lapangan.
Andi menekankan pentingnya penanganan dilakukan secara berlapis, mulai dari pompanisasi sebagai solusi cepat hingga pembenahan tata kelola dan infrastruktur air.
�Kementan bersama Kementerian Pekerjaan Umum, Pemerintah Kabupaten Karawang, pengelola sumber daya air, penyuluh, dan kelembagaan petani selanjutnya akan memperkuat koordinasi agar penanganan kekeringan tidak berhenti pada bantuan pompa, tetapi terintegrasi dengan pengelolaan air dari hulu hingga lahan pertanian.� tegasnya.