Hadapi Kekeringan di Gresik, Mentan Amran Gerak Cepat Turunkan Pompa dan Siapkan Sumur Bor
Kamis, 20 Agustus 2026 08:46:11 M. Digi
Gresik � Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman bergerak cepat menangani ancaman kekeringan yang mulai berdampak pada lahan pertanian di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Kementerian Pertanian (Kementan) langsung menurunkan bantuan pompa sekaligus menyiapkan pembangunan sumur bor sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga pasokan air, menyelamatkan pertanaman, dan memastikan petani tetap dapat berproduksi di tengah musim kemarau.
Penanganan tersebut dilakukan setelah Mentan Amran mengecek kondisi lahan tadah hujan di Desa Munggugianti, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, Selasa (11/8). Disiapkan dua skema intervensi sesuai kondisi sumber air untuk memitigasi kekeringan di wilayah tersebut.
Mentan Amran menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan petani menghadapi kekeringan sendiri. Setiap potensi sumber air yang tersedia harus segera dimanfaatkan untuk menjaga pertanaman sekaligus mempertahankan keberlanjutan produksi pangan.
�Kita tidak boleh angkat tangan menghadapi kekeringan. Sekecil apa pun kita bisa memberikan solusi di lapangan. Solusinya yang pertama adalah yang ada sumber air dekat dari sawah yang kekeringan tadi ada 200 hektare, kita berikan pompa langsung. Itu tidak ada basa-basi, tidak ada birokrasi panjang, langsung kita berikan pompa. Terus yang kedua, yang tidak ada sumber air kita buat sumur dangkal,� tegas Mentan Amran.
Menurut Amran, penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat dan disesuaikan dengan kondisi lapangan. Pada lahan yang masih memiliki akses terhadap embung atau sumber air permukaan, pompanisasi menjadi langkah tercepat untuk mengalirkan air ke areal pertanaman. Sementara pada wilayah yang tidak memiliki sumber air permukaan, Kementan menyiapkan sumur bor sebagai solusi yang lebih permanen.
Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk menjaga produktivitas lahan agar petani tetap dapat meningkatkan indeks pertanaman (IP). Ketersediaan air menjadi faktor penting agar lahan yang selama ini bergantung pada hujan dapat ditanami lebih dari satu kali dalam setahun.
Sekretaris Ditjen LIP Dhani Gartina mengatakan, petani di Desa Munggugianti memiliki semangat tinggi untuk meningkatkan IP hingga tiga kali setahun. Karena itu, pemerintah melakukan intervensi mulai dari penanganan cepat melalui pompanisasi hingga penyediaan sumber air yang lebih permanen.
�Kita intervensi melalui tahap awal dengan pompanisasi tiga inci mengambil dari embung. Selanjutnya kita mitigasi permanen ke depan dengan irigasi perpompaan sumber dalam melalui pengeboran. Saat ini tim geolistrik melakukan pengecekan untuk menentukan titik yang nantinya kalau dibor memiliki sumber air yang cukup,� jelas Dhani.
Pengecekan geolistrik menjadi bagian penting untuk memastikan titik pengeboran memiliki potensi sumber air yang memadai. Dengan demikian, pembangunan sumur bor tidak hanya menjadi respons terhadap kondisi kekeringan saat ini, tetapi juga dapat memperkuat ketersediaan air bagi pertanian pada musim kemarau berikutnya.
Di Desa Munggugianti sendiri, potensi lahan yang saat ini terdampak kekeringan diperkirakan sekitar 10 hektare. Penanganan dilakukan melalui koordinasi antara Kementan, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan petani untuk memastikan bantuan segera dimanfaatkan di lapangan.
Katimker Kabupaten Gresik Rohani Suwanderi mengatakan, prioritas utama penanganan saat ini adalah menyelamatkan tanaman yang masih berdiri (standing crop). Setelah kebutuhan mendesak tersebut tertangani, ketersediaan air diharapkan dapat mendukung keberlanjutan musim tanam berikutnya.
�Ke depannya yang pertama bisa menyelamatkan standing crop. Kemudian harapannya kalau bisa tanam padi, otomatis bisa menyumbang pada swasembada pangan nasional dan bisa mencukupi kebutuhan petani di sekitar sini,� ujar Rohani.
Bagi petani, bantuan tersebut memberikan kepastian untuk kembali mengolah lahan di tengah keterbatasan air. Terlebih, wilayah tersebut merupakan lahan tadah hujan yang sangat bergantung pada ketersediaan air selama musim kemarau.
Mardiano, salah seorang petani Desa Munggugianti, mengaku bantuan pompa dan dukungan penyediaan sumber air memberikan harapan bagi petani untuk meningkatkan intensitas tanam dan hasil usaha tani mereka.
�Saya sebagai petani mengucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah. Bantuan pemerintah ini akan saya pergunakan semaksimal mungkin agar petani Desa Munggugianti bisa sejahtera dan makmur. Setelah mendapat bantuan ini, harapan saya bisa panen tiga kali dalam waktu satu tahun,� ungkap Mardiano.
Kementan terus memperkuat langkah mitigasi kekeringan di wilayah sentra produksi dengan mengoptimalkan berbagai sumber air yang tersedia. Pompanisasi, pemanfaatan embung, hingga pembangunan sumur bor diarahkan tidak hanya untuk menghadapi dampak kemarau, tetapi juga menjaga keberlanjutan produksi dan meningkatkan indeks pertanaman.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga produksi pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim sekaligus memastikan petani tetap dapat berproduksi dan memperoleh pendapatan. Dengan dukungan ketersediaan air dan peningkatan intensitas tanam, lahan pertanian diharapkan tetap produktif untuk memperkuat swasembada pangan secara berkelanjutan.