Melalui PENAS XVII, Kementan Dorong Pekebun Naik Kelas dengan Produk Bernilai Tambah
Senin, 13 Juli 2026 09:55:08 M. Digi
Gorontalo � Kementerian Pertanian (Kementan) menjadikan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 sebagai momentum mempercepat hilirisasi perkebunan nasional. Berbagai produk olahan berbasis komoditas perkebunan yang ditampilkan pelaku usaha dari berbagai daerah menunjukkan bahwa pekebun Indonesia tidak lagi hanya berperan sebagai penghasil bahan baku, tetapi mulai berkembang menjadi pelaku usaha yang mampu menciptakan nilai tambah, membuka pasar baru, dan menggerakkan ekonomi perdesaan.
Transformasi tersebut menjadi bagian penting dari strategi Kementan dalam memperkuat daya saing subsektor perkebunan. Di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, peningkatan produksi dinilai harus diikuti dengan pengembangan produk turunan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh pekebun.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan kewirausahaan dan hilirisasi merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan pekebun.
�PENAS bukan sekadar ajang pertemuan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, tetapi menjadi wadah pembelajaran, pertukaran inovasi, dan penguatan jejaring usaha. Melalui kegiatan ini, kita ingin mendorong lahirnya lebih banyak wirausaha pertanian yang mampu menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan petani,� kata Mentan Amran.
Semangat tersebut terlihat dalam berbagai karya yang ditampilkan pada PENAS XVII. Pelaku usaha perkebunan menghadirkan beragam inovasi produk olahan, mulai dari gula aren dan gula semut, kopi olahan dari hulu hingga hilir, teh daun kopi, hingga berbagai produk berbasis kelapa yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan komoditas mentah.
Berbagai inovasi tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi telah berkembang menjadi gerakan nyata di tingkat pekebun. Pengolahan hasil perkebunan tidak hanya meningkatkan nilai jual produk, tetapi juga membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat rantai nilai komoditas di daerah.
Menariknya, sejumlah pelaku usaha juga menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah produksi menjadi produk bernilai ekonomi. Limbah kelapa, misalnya, diolah menjadi kerajinan maupun bahan baku industri. Sebagian lainnya mengembangkan usaha yang terintegrasi dengan edukasi dan agrowisata sebagai strategi memperluas pasar sekaligus meningkatkan keberlanjutan usaha.
Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menilai perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa hilirisasi tidak lagi hanya berkembang di tingkat industri besar, tetapi telah tumbuh di sentra-sentra perkebunan rakyat. Kemampuan mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat ekonomi perdesaan.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap inovasi yang berkembang di daerah, Kementan melalui Direktorat Jenderal Perkebunan memberikan penghargaan kepada pelaku usaha terbaik dalam Lomba Karya Wirausaha PENAS XVII 2026. Peringkat pertama diraih Rumah Produksi Henahuafiz dari Kalimantan Selatan, disusul BUMP PT Sinergi Brebes Inovatif dari Jawa Tengah di posisi kedua, dan Adana Gula Semut dari Daerah Istimewa Yogyakarta di posisi ketiga.
Ke depan, Kementerian Pertanian akan terus memperkuat pengembangan usaha berbasis hilirisasi melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, penguatan kelembagaan pekebun, perluasan akses pasar, dan kemitraan dengan dunia usaha.
Melalui PENAS XVII, Kementan menegaskan bahwa masa depan perkebunan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi juga kemampuan mengolah komoditas menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu meningkatkan kesejahteraan pekebun dan memperkuat daya saing Indonesia.