KEMENTERIAN PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA

ID EN

Gaspol! Kementan Garap Tebu Skala Masif, Swasembada Gula di Depan Mata


Jumat, 17 April 2026 15:13:45 M. Digi

 Jakarta — Kementerian Pertanian (Kementan) tancap gas mempercepat pengembangan kawasan tebu skala masif seluas 97.970 hektare pada tahun 2026 sebagai langkah konkret mewujudkan swasembada gula nasional.

 
Percepatan ini ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Percepatan Kegiatan Kawasan Tebu yang digelar Direktorat Jenderal Perkebunan secara daring, Kamis (16/4/2026), dengan fokus memastikan kesiapan lahan, benih, hingga jadwal tanam sebelum musim giling dimulai.
 
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Ali Jamil menegaskan, seluruh tahapan krusial dipacu agar implementasi di lapangan berjalan tepat waktu dan terukur.
 
“Kementerian Pertanian berharap percepatan pengembangan kawasan tebu ini tidak hanya mampu meningkatkan produksi dan rendemen gula nasional, tetapi juga memperkuat kesejahteraan petani serta mendorong kemandirian industri gula dari hulu hingga hilir,” katanya.
 
Sebagai informasi, pengembangan kawasan tebu tahun 2026 ditargetkan seluas 97.970 hektare dengan dukungan APBN sebesar Rp1,3 triliun. Kegiatan ini tersebar di sejumlah provinsi strategis, dengan Jawa Timur sebagai lokasi utama, disusul Lampung, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, serta pengembangan di wilayah luar Jawa seperti Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, dan Banten sebagai lokus pengembangan baru.
 
Untuk menjamin percepatan, Kementan menargetkan penyelesaian Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL) paling lambat pertengahan Mei 2026, sebelum musim giling dimulai pada 17 Mei. Sinkronisasi ini dinilai krusial agar siklus tanam, tebang, dan produksi gula berjalan optimal.
 
Di sisi hulu, pengadaan benih dipercepat melalui optimalisasi kontrak berjalan dan pemanfaatan sumber benih yang tersedia, serta sinkronisasi jadwal tanam dengan periode tebang dan giling yang berlangsung Mei hingga November 2026. Bahkan, perluasan areal telah didorong lebih awal sejak April guna mengamankan capaian target tanam.
Untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan, pemerintah melakukan penyesuaian lokasi kegiatan melalui relokasi sebagian alokasi ke wilayah yang lebih siap, yang akan diikuti dengan revisi DIPA. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat realisasi program secara lebih terarah dan optimal.
 
Selain itu, penguatan monitoring dan evaluasi (monev) dilakukan secara intensif terhadap kegiatan tahun 2025 dan 2026 untuk menjaga produktivitas dan rendemen tebu. Antisipasi risiko iklim, termasuk potensi El Nino, juga disiapkan melalui penyediaan sumber air dan pompanisasi guna mencegah kekeringan.
 
Dari sisi hilir, sinergi lintas sektor terus diperkuat. Kementan menggandeng BUMN, khususnya PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), bersama pelaku usaha dan pabrik gula swasta untuk memastikan konsolidasi program berjalan efektif di lapangan. Selain itu, seluruh pihak didorong untuk mempercepat finalisasi CPCL, memastikan kejelasan status lahan, serta memperkuat koordinasi dan monitoring kesiapan lahan, benih, dan jadwal tanam. Upaya mitigasi juga dilakukan secara terencana melalui pemetaan potensi kendala dan penyusunan langkah antisipatif yang terukur.
 
Secara terpisah, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, percepatan ini merupakan implementasi langsung arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan kemandirian gula nasional.
 
“Kita tidak ingin terus bergantung pada impor. Seluruh jajaran harus bergerak cepat, terukur, dan terintegrasi, mulai dari penyiapan lahan, benih, hingga penguatan industri gula,” tegasnya.
 
Ia optimistis, dengan kerja cepat dan kolaborasi kuat antara pemerintah, BUMN, dan swasta, target swasembada gula bukan lagi wacana, melainkan target yang semakin dekat untuk diwujudkan.
 
“Kami ingin program ini tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat kesejahteraan petani dan daya saing industri gula nasional,” pungkasnya.

Aksesibilitas

Kontras
Saturasi
Pembaca Layar
D
Ramah Disleksia
Perbesar Teks
Jarak Huruf
Jarak Baris
Perataan Teks
Jeda Animasi
Kursor
Reset