Hujan Belum Surut di April, HKTI Sebut Ada Peluang Indeks Pertanaman Meningkat
Jumat, 17 April 2026 15:44:51 M. Digi
BANDUNG – Curah hujan yang masih berlangsung hingga April 2026 membuka peluang bagi peningkatan indeks pertanaman di berbagai wilayah. Di tengah dinamika iklim yang tidak menentu, sektor pertanian justru dinilai memiliki ruang untuk mengoptimalkan periode tanam dan menjaga keberlanjutan produksi.
Ketua DPD HKTI Jawa Barat, Entang Sastraatmaja menyebutkan bahwa kondisi hujan yang masih terjadi pada April tidak menjadi hambatan berarti. Justru, dalam situasi tertentu, hal ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan intensitas tanam.
“Dalam kondisi normal, petani biasanya hanya menanam dua kali dalam setahun. Namun dengan kondisi saat ini, ada peluang untuk meningkatkan indeks pertanaman,” jelas Entang dalam keterangan pers, Jumat (17/4/2026).
Dengan dukungan kebijakan pemerintah dan kondisi iklim yang masih dinamis, sektor pertanian diyakini tetap mampu menjaga stabilitas produksi sekaligus memaksimalkan peluang peningkatan tanam di berbagai daerah. Apalagi Indonesia pada tahun 2025 berhasil mencatat swasembada beras. Hingga 15 April lalu, cadangan beras pemerintah mencatat rekor 4,7 juta ton. Angka itu diyakini masih akan terus meningkat karena musim panen raya masih akan berlangsung hingga Mei nanti.
Karena itu, meski El Nino diprediksi akan terjadi, Entang masih optimistis terhadap produksi nasional. Kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi perubahan iklim, termasuk potensi kemarau panjang, disebut menjadi faktor kunci. Berbagai langkah mitigasi yang telah disiapkan, seperti penguatan sistem irigasi dan penyediaan pompa air, dinilai mampu menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian.
“Seluruh langkah tersebut dilakukan agar pasokan air selama musim kemarau tetap terjaga, sehingga petani dapat terus berproduksi dengan tenang,” ujarnya.
Menurutnya, prediksi kemarau panjang tidak akan memberikan dampak besar terhadap produksi pertanian secara keseluruhan karena berbagai langkah antisipatif telah dilakukan sejak dini.
*_Petani optimistis tahun ini bisa tiga kali tanam_*
Sentimen yang sama dirasakan oleh para petani di lapangan. Dilansir dari laman nu.or.id (14/04/2026), Kondisi cuaca yang masih diwarnai hujan pada April 2026 justru membawa optimisme bagi sebagian petani di sentra produksi beras. Meski tergolong tidak menentu, curah hujan yang masih turun dinilai mampu memperpanjang masa tanam, sehingga membuka peluang peningkatan frekuensi panen dibandingkan kondisi normal.
Miftahur Rohim, petani asal Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menilai kondisi cuaca tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Ia menyebut petani tadah hujan tetap memiliki peluang untuk melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun, meskipun dihadapkan pada dinamika cuaca yang cenderung ekstrem.
“Petani tadah hujan tetap bisa memperoleh tiga kali masa panen walaupun dengan cuaca ekstrem,” ujar Rohim.
Optimisme tanam tiga kali juga turut didukung keberadaan koperasi yang menyediakan pupuk bersubsidi. Rohim berharap ketersediaannya dapat terus terjaga.
“Harapannya stok pupuk mencukupi. Namun jika terbatas, kami berusaha menyesuaikan dengan yang tersedia,” ujarnya.
Sedikit berbeda, Abdul Azhim, petani asal Sulang mengatakan kondisi cuaca tahun ini agak berbeda karena biasanya April sudah memasuki musim kemarau, Tapi kali ini cuaca seperti tidak menentu karena hujan masih berlanjut. Karena itu ia menekankan pentingnya dukungan informasi cuaca yang lebih akurat dan mudah dipahami oleh petani. Ia menilai bahwa kebutuhan informasi bagi sektor pertanian berbeda dengan sektor lain, sehingga diperlukan penyajian data yang lebih aplikatif, baik untuk jangka pendek maupun tahunan.
“Kebutuhan ramalan cuaca untuk pertanian berbeda dengan nelayan. Petani memerlukan informasi yang rasional dan mudah dipahami, bukan sekadar perkiraan,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mendorong ketersediaan data komoditas nasional yang lebih valid guna mencegah kelebihan produksi yang berpotensi menekan harga. Peran penyuluh pertanian lapangan (PPL) dinilai penting untuk memperkuat distribusi informasi tersebut.(*)