KEMENTERIAN PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA

ID EN

Kementan Bangun 999 Jaringan Irigasi Tersier, Jaga Sawah Jabar-Banten Tetap Produktif


Selasa, 8 September 2026 10:48:45 M. Digi

BANDUNG � Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat infrastruktur pengairan pertanian di Jawa Barat dan Banten melalui pembangunan dan pemeliharaan 999 unit jaringan irigasi tersier. Penguatan jaringan irigasi hingga ke tingkat lahan pertanian tersebut menjadi langkah penting untuk menjaga sawah tetap produktif dan memastikan petani dapat mempertahankan musim tanam di tengah musim kemarau.

Langkah tersebut menjadi fokus dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi Kegiatan Operasional dan Pemeliharaan (OP) Irigasi Tersier yang digelar di Bandung, Kamis (3/9/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari penguatan pengelolaan sumber daya air pertanian, khususnya di wilayah Jawa Barat dan Banten yang menghadapi risiko kekeringan selama musim kemarau.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan pentingnya pembangunan dan perbaikan infrastruktur pengairan dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian dan ketahanan pangan nasional.

�Air adalah faktor utama dalam pertanian. Karena itu, irigasi harus kita perbaiki dan pastikan air benar-benar sampai ke lahan pertanian agar petani bisa terus berproduksi,� tegas Mentan Amran.

Direktur Irigasi Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Liferdi Lukman, mengatakan sebanyak 999 unit jaringan irigasi tersier dialokasikan untuk wilayah Jawa Barat dan Banten melalui berbagai skema anggaran.

Hingga saat ini, realisasi fisik kegiatan OP Irigasi Tersier telah mencapai 737 unit atau 73,77 persen. Sementara itu, kegiatan yang bersumber dari Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) mencatatkan progres sebesar 88,04 persen atau 405 unit dari total alokasi 460 unit.

Adapun kegiatan yang bersumber dari anggaran aspirasi di wilayah Jawa Barat dan Banten masih dalam tahap verifikasi. Sejumlah lokasi kegiatan BPLIP juga tengah memasuki proses verifikasi pascarelokasi.

�Untuk kita ketahui bersama, Indonesia saat ini sudah memasuki musim kemarau yang bertepatan dengan El Nino, sehingga durasi kemarau di sejumlah wilayah cukup panjang, termasuk di Jawa Barat dan Banten. Keberadaan jaringan irigasi sangat vital bagi keberlanjutan produksi pertanian karena air adalah sumber utama kehidupan,� ujar Liferdi.

Menurutnya, Kementan telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga pertanaman dan meminimalkan risiko gagal panen. Pemanfaatan air permukaan dilakukan melalui perbaikan saluran tersier, perpipaan, dan perpompaan. Sementara optimalisasi air tanah dilakukan melalui pembangunan sumur bor dan jaringan irigasi air tanah (JIAT).

Selain itu, Kementan juga menyalurkan bantuan benih gratis bagi lahan yang mengalami gagal panen agar petani dapat segera kembali melakukan penanaman.

Dukungan dan sinergi pengelolaan air di lapangan juga terus diperkuat bersama pemerintah daerah. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pandeglang, Tanti Yulianti, mengatakan pihaknya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, termasuk pada sekitar 300 hektare lahan yang terindikasi mengalami kekeringan serta 19 hektare lahan yang terdampak gagal panen.

�Intervensi program di daerah kami terus berjalan, salah satunya melalui alokasi irigasi tersier dari Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian sebanyak 53 unit yang seluruhnya telah terealisasi 100 persen, di samping pengusulan 101 unit pompanisasi. Petugas penyuluh kami bersama para petani rutin mengidentifikasi potensi sumber air tanah dan sumur bor agar lahan pertanian yang rentan kekeringan tetap terairi,� jelas Tanti.

Ia berharap dukungan infrastruktur pertanian dari pemerintah pusat dapat terus diperkuat mengingat keterbatasan anggaran daerah dalam menjangkau seluruh wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan.

�Kami sangat mengharapkan dukungan penuh dari kementerian, khususnya Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian, mengingat keterbatasan anggaran daerah untuk menjangkau seluruh area yang mengalami kekeringan. Bantuan ini sangat dibutuhkan agar petani kami tetap bisa berproduksi,� tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan OP Irigasi Tersier dilakukan melalui pola Bantuan Pemerintah (Banpem) berbasis padat karya. Sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 02 Tahun 2026, pengusulan kegiatan diintegrasikan melalui sistem e-Banper yang menerapkan pendataan berbasis digitalisasi spasial, mulai dari perekaman titik koordinat, panjang, hingga luasan saluran.

Sinergi pengelolaan jaringan irigasi juga terus diperkuat bersama Kementerian Pekerjaan Umum berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Irigasi. Dalam pembagian peran tersebut, Kementerian PU mengelola jaringan irigasi primer dan sekunder, sementara Kementan berfokus memperkuat jaringan irigasi tersier hingga ke lahan pertanian.

Liferdi menambahkan, pengelolaan air secara presisi juga menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau. Melalui penerapan metode Alternating Wetting and Drying (AWD) atau macak-macak serta Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS), penggunaan air dapat dilakukan secara lebih efisien.

Menurutnya, musim kemarau tidak selalu menjadi hambatan bagi peningkatan produksi pertanian. Dengan kecukupan air dan pengelolaan budidaya yang tepat, intensitas sinar matahari selama musim kemarau justru dapat mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

�Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, alokasi anggaran sektor irigasi ditingkatkan hingga dua kali lipat. Dengan fokus perbaikan jaringan infrastruktur pengairan ini, kita optimistis Jawa Barat dan Banten dapat terus mengawal kedaulatan pangan nasional menuju Indonesia Emas 2045,� pungkasnya.


Aksesibilitas

Kontras
Saturasi
Pembaca Layar
D
Ramah Disleksia
Perbesar Teks
Jarak Huruf
Jarak Baris
Perataan Teks
Jeda Animasi
Kursor
Reset