Masyarakat Dukung Mentan Amran Usut Dugaan Kasus Beras Oplosan: Pak Menteri Gercep!
Jumat, 18 Juli 2025 17:39:58 SZ
Jakarta – Masyarakat memberikan apresiasi dan dukungan penuh kepada Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman yang secara tegas mengusut dugaan kasus beras oplosan. Warga berharap langkah cepat pemerintah dapat mengembalikan kepercayaan publik terhadap kualitas pangan sekaligus menekan praktik curang yang merugikan rakyat kecil.
Salah satunya disampaikan oleh Barokah, warga asal Pondok Labu, Jakarta Selatan. Ia menceritakan pengalamannya membeli beras dengan kualitas rendah.
“Saya kecewa. Saya berkali-kali dapat beras harganya agak mahal tapi berasnya gak bagus. Itu dicampur di pengecernya. Kita gimana mau protes. Mungkin pedagangnya mau untung,” katanya saat diwawancara pada Jumat (18/7/2025).
Barokah juga mengapresiasi gerakan cepat Mentan Amran mengungkap dugaan kasus pengoplosan beras. “Menteri Pertanian ini bagus. Pak Menteri gercep. Saya juga mendukung gerakan Satgas Pangan agar harga-harga tidak mahal,” ungkapnya.
Ia juga berharap pemerintah terus melakukan upaya terbaik untuk menjamin pangan yang terjangkau, tercukupi, dan berkualitas bagi masyarakat. “Semoga aja pangan Indonesia gak terlalu mahal. Pemerintah tanggulangi harga mahal. Hasil bumi kita berkecukupan. Semoga tidak ada daya beli turun karena harga terjangkau,” harapnya.
Selain itu, Mugiyanto, warga asal Cilandak, Jakarta Selatan menyampaikan terima kasih kepada Mentan Amran yang menginisiasi penelusuran terhadap dugaan pengoplosan beras yang tidak sesuai kualitas. Ia berharap agar penegak hukum segera menindak dugaan praktik kecurangan beras tersebut.
“Terima kasih Pak Menteri Amran. Semoga ini gak berlarut-larut. Harus segera ditangani. Harus ditindak aparat. Kasihan, kita kan orang kecil, gak tahu apa-apa,” ucapnya.
Sebelumnya, pada Jumat (27/6/2025) lalu, Mentan Amran mengungkapkan temuan terkait peredaran beras bermasalah di pasar. Ia menyatakan ada 212 merek beras dari total 268 merek yang diperiksa yang tidak sesuai dengan ketentuan mutu, berat, dan harga eceran tertinggi (HET).
Mentan Amran menyebut potensi kerugian konsumen akibat praktik curang ini bisa mencapai Rp99 triliun. Beras SPHP yang seharusnya dijual sesuai ketentuan, ditemukan dikemas ulang dan dijual sebagai beras premium dengan harga lebih mahal. Temuan ini telah dilaporkan secara resmi kepada Polri dan Kejaksaan Agung untuk ditindaklanjuti.
Mentan menjelaskan anomali harga beras menjadi perhatian serius karena terjadi saat produksi nasional justru meningkat. FAO memperkirakan produksi beras Indonesia mencapai 35,6 juta ton pada 2025/2026, di atas target nasional 32 juta ton. “Kalau dulu harga naik karena stok sedikit, sekarang tidak ada alasan. Produksi tinggi, stok melimpah, tapi harga tetap tinggi. Ini indikasi adanya penyimpangan,” ujarnya.