Mentan Amran Lapor ke Presiden: Stok Pangan Aman dan Lebih dari Cukup Jelang Ramadan dan Idulfitri
Rabu, 11 Februari 2026 20:42:31 M. Digi
Jakarta — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melaporkan kepada Presiden Republik Indonesia bahwa ketersediaan dan stabilitas stok pangan nasional dalam kondisi aman dan terkendali menjelang bulan suci Ramadan hingga Idulfitri 2026.
Hal tersebut disampaikan Mentan Amran usai mengikuti Rapat Terbatas (Ratas) di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/2/2026). Dalam rapat tersebut, Mentan melaporkan perkembangan stok, produksi, hingga harga pangan strategis nasional.
“Stok pangan kita aman. Untuk dua bulan ke depan lebih dari cukup. Bahkan sampai Idulfitri, stok 11 sampai 12 bahan pokok tersedia dan dalam kondisi aman,” kata Amran.
Mentan Amran menjelaskan, dari sembilan bahan pokok utama, sebagian besar sudah berada pada posisi swasembada bahkan mampu menembus pasar ekspor. Sementara untuk komoditas yang masih membutuhkan impor, ketersediaannya juga dipastikan mencukupi.
“Bawang merah kita sudah swasembada, bahkan ekspor. Tahun 2025 ekspornya sekitar seribu ton. Jadi yang kita benahi sekarang adalah rantai pasoknya agar harga tetap stabil,” ujarnya.
Menurut Mentan Amran, pemerintah terus memperkuat pengendalian harga melalui kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), terutama pada komoditas strategis seperti beras, minyak goreng, daging, ayam, dan telur.
“Beras itu yang paling strategis. Ini yang kita jaga betul. Targetnya jelas, petani untung, konsumen tersenyum,” ungkap Mentan Amran.
Dalam laporannya kepada Presiden, Mentan juga menyampaikan posisi cadangan beras pemerintah yang terus menguat. Saat ini stok beras nasional mencapai 3,4 juta ton dan diproyeksikan meningkat menjadi 3,8 juta ton pada akhir Februari, serta menembus 4 juta ton pada Maret 2026.
“Stok bantuan pangan sangat cukup. SK sudah ada dan penyalurannya kita percepat,” jelasnya.
Penguatan stok tersebut ditopang oleh lonjakan produksi beras nasional sepanjang tahun lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras Indonesia Januari–Desember 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan 2024. Capaian ini sejalan dengan proyeksi FAO dan USDA yang memperkirakan produksi Indonesia berada di kisaran 34,6 juta ton, sekaligus tertinggi di kawasan ASEAN.
Momentum peningkatan produksi diperkirakan berlanjut pada awal 2026. Potensi produksi beras Januari–Maret 2026 diproyeksikan mencapai 10,16 juta ton, naik 1,39 juta ton atau 15,79 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Mentan Amran menegaskan, keberadaan cadangan pemerintah menjadi kunci utama stabilisasi harga, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri. Pemerintah, kata dia, tidak boleh absen dalam menjaga pasar agar tidak terjadi gejolak harga.
“Kalau pemerintah tidak punya cadangan, bagaimana cara intervensi pasar? Itu sebabnya negara harus hadir dan punya stok yang kuat,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengalaman stabilitas harga saat Natal dan Tahun Baru (Nataru) menjadi bukti bahwa langkah penguatan stok dan intervensi pemerintah berjalan efektif.
“Alhamdulillah, Nataru kemarin relatif stabil. Itulah yang kita jaga sekarang. Ramadan dan Idulfitri harus lebih baik, harga terkendali, masyarakat tenang,” pungkasnya.