KEMENTERIAN PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA

ID EN

Antisipasi Kekeringan 2026, Kementan Optimalkan Air di Waduk Bajulmati Banyuwangi


Senin, 27 Juli 2026 15:35:06 M. Digi

Banyuwangi � Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat penguatan sistem irigasi sebagai langkah strategis menghadapi potensi El Nino 2026 sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui peninjauan optimalisasi pemanfaatan air Waduk Bajulmati di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, guna memastikan pasokan air irigasi tetap tersedia bagi petani selama musim kemarau serta meningkatkan intensitas tanam di wilayah sentra pangan.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan, menegaskan bahwa penguatan dan revitalisasi jaringan irigasi merupakan bagian penting dari strategi mitigasi pemerintah menghadapi ancaman kekeringan.

"Kita tidak boleh menunggu krisis terjadi. Prinsip kita adalah mitigasi dari hulu. Air harus tersedia, irigasi harus berfungsi, dan petani harus tetap bisa menanam," tegas Mentan Amran.

Sebagai implementasi arahan tersebut, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) melakukan kunjungan kerja ke kawasan Jaringan Irigasi Tersier yang bersumber dari Waduk Bajulmati, Kabupaten Banyuwangi, Jumat (24/7). Kunjungan ini menjadi bagian dari langkah responsif pemerintah dalam mengantisipasi potensi kekeringan sekaligus mempersiapkan sektor pertanian menghadapi prediksi kemarau panjang pada 2026.

Sekretaris Ditjen LIP, Dhani Gartina, mengatakan potensi air yang tersimpan di bendungan harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung peningkatan produksi pertanian, bukan dibiarkan mengalir ke laut tanpa memberikan manfaat bagi petani.

Karena itu, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Kementerian Pekerjaan Umum, serta seluruh pemangku kepentingan menjadi sangat penting agar sumber air dari Waduk Bajulmati dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung budidaya tanaman pangan maupun hortikultura di Banyuwangi dan Situbondo.

"Sejak 2015 Waduk Bajulmati sudah beroperasi. Pertanian pada luas baku sekitar 1.800 hektare ini Alhamdulillah sudah mencapai indeks pertanaman tiga kali dan masih bisa ditingkatkan lagi,� ungkap Dhani.

Ia menambahkan, ke depannya agar BBWS Brantas bersama Kementerian PU dapat memaksimalkan pemanfaatan air waduk untuk mendukung pertanaman Masa Tanam (MT) II hingga MT III tahun 2026 sehingga dapat memitigasi adanya kekeringan hingga puso di wilayah Banyuwangi dan Situbondo.

Sejalan dengan itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi, Danang Hartanto, menjelaskan keberadaan Waduk Bajulmati telah memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan petani, khususnya di wilayah timur Kecamatan Wongsorejo.

Menurutnya, ketersediaan air yang lebih baik membuat Indeks Pertanaman meningkat dari dua kali menjadi tiga kali tanam dalam setahun.

"Dengan adanya waduk ini, ketersediaan air menjadi cukup bagi petani sehingga indeks pertanaman yang sebelumnya dua kali kini menjadi tiga kali. Ke depan masih terdapat potensi pengembangan sekitar 1.500 hektare sawah tadah hujan di sisi barat yang saat ini masih kering. Kami akan mengusulkan kepada Kementerian Pertanian agar dilakukan kajian sehingga wilayah tersebut juga dapat memperoleh layanan irigasi," jelas Danang.

Sementara itu, Kepala Satuan Operasi UPP 1 Unit Pengelolaan Bendungan 1 BBWS Brantas, Ferry, memastikan kondisi tampungan Waduk Bajulmati sangat memadai untuk mendukung kebutuhan irigasi lahan seluas 1.800 hektare selama musim kemarau.

"Setiap hari kami melaporkan kondisi waduk ke pusat. Saat ini volume tampungan masih lebih dari 8 juta meter kubik sehingga pasokan air irigasi sangat aman,� ujarnya.

Ferry menambahkan, berdasarkan perhitungan BBWS, air masih mampu bertahan sekitar 480 hari atau lebih dari satu tahun, hingga batas minimum tampungan. Menurutnya, sinergi yang dilakukan antara Kementan dan Kementerian PU sebagai upaya menjaga ketahanan pangan.

Melalui penguatan jaringan irigasi, optimalisasi pemanfaatan waduk, serta kolaborasi lintas sektor, Kementerian Pertanian optimistis risiko kekeringan akibat El Nino dapat diminimalkan sehingga petani tetap dapat menanam, indeks pertanaman meningkat, dan produksi pangan nasional terus terjaga sebagai fondasi menuju swasembada pangan yang berkelanjutan.


Aksesibilitas

Kontras
Saturasi
Pembaca Layar
D
Ramah Disleksia
Perbesar Teks
Jarak Huruf
Jarak Baris
Perataan Teks
Jeda Animasi
Kursor
Reset