Hadapi Curah Hujan Tinggi 2026, Kementan Percepat Penguatan Irigasi untuk Jaga Produksi Beras
Kamis, 5 Februari 2026 13:57:53 M. Digi
Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat penguatan infrastruktur irigasi pada awal 2026 untuk mengantisipasi tingginya curah hujan sekaligus menjaga stabilitas produksi beras nasional. Di tengah meningkatnya risiko cuaca ekstrem di sejumlah sentra pangan, penguatan tata kelola air, mulai dari jaringan irigasi, drainase, hingga pengendalian genangan lahan didorong sebagai pendukung peningkatan produktivitas.
Sebagai langkah konkret, percepatan program Cetak Sawah Rakyat (CSR) dilakukan melalui skema fasilitas percepatan konstruksi (RPATA) yang dirancang untuk mempercepat penyelesaian pembangunan sawah baru di berbagai provinsi. Upaya ini menjadi bagian dari pelaksanaan kegiatan strategis Triwulan I Tahun 2026 melalui penguatan koordinasi lintas sektor.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) Hermanto, menegaskan bahwa percepatan program CSR menjadi bagian dari kebijakan penguatan infrastruktur air pertanian untuk menjaga produksi beras di tengah dinamika iklim. Menurutnya, sinergi lintas kementerian diperlukan agar pembangunan lahan baru berjalan tepat waktu dan berbasis data iklim yang akurat.
“Kami ingin memastikan dukungan lintas sektor berjalan optimal sehingga target konstruksi cetak sawah tahun 2025 di 20 provinsi dapat terealisasi,” ujarnya dalam koordinasi teknis lintas sektor yang melibatkan Kementerian Pekerjaan Umum dan BMKG di Kantor Pusat Ditjen LIP, Jakarta (2/2/2026).
Hermanto juga mengapresiasi dukungan Kementerian Pekerjaan Umum dalam penanganan wilayah yang menghadapi kekeringan maupun kekurangan air sebagai bagian dari penguatan infrastruktur pertanian nasional.
Berdasarkan prakiraan BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia pada 2026 diprediksi mengalami curah hujan tahunan 1.500–4.000 mm, dengan sekitar 5,1 persen wilayah berada pada kategori di atas normal. Kondisi ini menuntut kesiapan infrastruktur irigasi dan sistem tata air pertanian yang lebih andal dan adaptif.
Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, menjelaskan bahwa dalam periode 1981–2024 terjadi variasi tren curah hujan tahunan di berbagai wilayah Indonesia.
“Penurunan signifikan terjadi di sebagian Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara, sementara peningkatan curah hujan terjadi di sebagian Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Pada Februari hingga Maret 2026, curah hujan bulanan secara umum diprediksi berada pada kategori menengah hingga tinggi, dengan potensi hujan sangat tinggi di sebagian Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, serta sebagian kecil Papua Tengah,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dinamika atmosfer awal tahun berpotensi memicu hujan lebat berdurasi singkat yang meningkatkan risiko banjir dan genangan lahan.
“Informasi iklim ini menjadi dasar penting dalam pengaturan pola tanam dan pengelolaan tata air agar dampak negatif hujan ekstrem dapat ditekan,” tegas Marjuki.
Hermanto menekankan pentingnya kolaborasi dengan BMKG dalam menyediakan data iklim akurat sebagai dasar pengambilan keputusan teknis di lapangan.
“Kami membutuhkan justifikasi berbasis ilmiah dari data deret waktu curah hujan BMKG sebagai acuan percepatan penyelesaian target cetak sawah,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Direktur Irigasi dan Rawa Kementerian Pekerjaan Umum, Yosiandi Radi Wicaksono, menyampaikan bahwa dukungan Kementerian PU difokuskan pada peningkatan keandalan jaringan irigasi pertanian. Berdasarkan evaluasi konstruksi CSR Tahun 2025, sebagian besar areal dalam wilayah Daerah Irigasi dan Daerah Irigasi Rawa memerlukan intervensi pembangunan jaringan irigasi primer dan sekunder.
Untuk areal potensial, intervensi dilakukan melalui pembangunan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan primer, sekunder, dan tersier. Sementara itu, konstruksi di luar wilayah irigasi memerlukan pembangunan jaringan air tanah serta irigasi permukaan atau rawa.
Dalam keterangan persnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengelolaan air menjadi kunci utama menjaga produktivitas pertanian di tengah perubahan iklim.
“Curah hujan yang tinggi harus kita kelola sebagai berkah. Melalui penguatan irigasi, perbaikan drainase, dan tata air lahan yang tepat, produksi padi tetap dapat terjaga dan bahkan ditingkatkan,” ujar Mentan Amran.
Ia memastikan produksi pangan nasional tetap aman meskipun dihadapkan pada cuaca ekstrem.
“Negara hadir melindungi petani dan memastikan keberlanjutan pertanian nasional sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan petani,” tegasnya.
Melalui percepatan pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur irigasi, pemerintah menargetkan peningkatan indeks pertanaman serta stabilitas produksi beras di berbagai sentra pangan. Penguatan tata air ini diharapkan mampu melindungi lahan pertanian dari risiko banjir maupun kekeringan, sekaligus meningkatkan produktivitas padi secara berkelanjutan.