Kementan Perkuat Mitigasi Perubahan Iklim untuk Jaga Produksi Kopi Nasional
Kamis, 6 Agustus 2026 14:56:21 M. Digi
Jakarta � Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim untuk menjaga produksi kopi nasional. Berbagai langkah dilakukan mulai dari penerapan teknologi budidaya adaptif, penggunaan benih unggul yang toleran terhadap cekaman iklim, pengelolaan tanaman penaung, konservasi tanah dan air, hingga peningkatan kapasitas pekebun agar mampu menghadapi dampak perubahan iklim.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa perubahan iklim menjadi tantangan nyata yang harus diantisipasi melalui penguatan sistem budidaya yang adaptif dan berkelanjutan. Menurutnya, berbagai langkah mitigasi terus dilakukan agar produktivitas dan kualitas kopi Indonesia tetap terjaga.
"Mitigasi terus diperkuat melalui penerapan budidaya adaptif, penggunaan benih unggul yang toleran terhadap kekeringan, serta pendampingan kepada pekebun agar produksi tetap terjaga," tegas Mentan Amran.
Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis Indonesia. Selain menjadi sumber penghidupan jutaan pekebun, kopi juga berkontribusi terhadap ekspor nasional dan menjadi salah satu komoditas yang semakin diminati pasar dunia. Oleh karena itu, menjaga keberlanjutan produksi kopi menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan, ekonomi, dan daya saing perkebunan Indonesia.
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Heru Tri Widarto mengatakan perubahan iklim harus direspons melalui peningkatan produktivitas yang disertai penerapan praktik budidaya berkelanjutan.
"Tantangan ke depan semakin kompleks, salah satunya akibat perubahan iklim. Karena itu, peningkatan produktivitas harus dibarengi dengan penerapan teknologi dan praktik budidaya yang berkelanjutan agar produksi kopi tetap terjaga," kata Heru dalam keterangannya pada Rabu (5/8).
Menurut Heru, perubahan iklim berpotensi mengganggu fase pembungaan tanaman kopi, meningkatkan risiko kekeringan maupun curah hujan berlebih, serta memperbesar ancaman organisme pengganggu tanaman (OPT). Peningkatan suhu dapat mempercepat siklus hidup hama utama kopi seperti enggerek buah kopi sekaligus memperluas wilayah penyebarannya hingga ke dataran yang sebelumnya relatif aman.
Di sisi lain, perubahan pola curah hujan dan meningkatnya kelembapan lingkungan juga menciptakan kondisi yang lebih kondusif bagi perkembangan penyakit penting pada tanaman kopi, antara lain karat daun kopi, bercak daun, antraknosa, serta busuk buah kopi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan frekuensi maupun intensitas serangan penyakit sehingga berdampak terhadap produktivitas dan mutu hasil kopi.
Oleh karena itu, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan terus mendorong penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang adaptif terhadap perubahan iklim sebagai bagian dari sistem budidaya kopi berkelanjutan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan ketahanan sistem produksi kopi sekaligus menjaga produktivitas dan kualitas hasil.
Selain itu, berbagai langkah mitigasi terus diperkuat melalui penggunaan varietas atau benih unggul yang lebih toleran terhadap cekaman iklim, pengaturan naungan kebun menggunakan tanaman pelindung untuk menjaga kestabilan suhu mikro, serta penerapan konservasi tanah dan air melalui pembuatan rorak, terasering, penggunaan mulsa, dan penanaman tanaman penutup tanah.
Pekebun juga didorong melakukan pemangkasan secara rutin guna menjaga sirkulasi udara, menerapkan pemupukan berimbang sesuai kebutuhan tanaman, memantau perkembangan hama dan penyakit secara berkala agar pengendalian dapat dilakukan lebih cepat dan tepat, serta memanfaatkan informasi prakiraan cuaca sebagai dasar penentuan waktu tanam, pemupukan, hingga panen.
Dalam mendukung adaptasi perubahan iklim, Direktorat Jenderal Perkebunan juga terus memperluas penerapan Good Agricultural Practices (GAP), penggunaan benih unggul bersertifikat, pengembangan kebun percontohan, serta peningkatan kapasitas pekebun melalui penyuluhan dan pendampingan berkelanjutan.
Heru menegaskan bahwa keberhasilan menghadapi perubahan iklim tidak hanya bergantung pada penerapan teknologi budidaya, tetapi juga memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
"Sinergi antara pemerintah, peneliti, penyuluh, pelaku usaha, dan pekebun menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan subsektor kopi nasional terhadap perubahan iklim. Melalui pendampingan yang berkelanjutan dan penerapan praktik perkebunan yang ramah lingkungan, kopi Indonesia diharapkan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus mempertahankan daya saingnya di pasar global," pungkas Heru.