Mentan Amran Rapat Pukul 06.00 Bahas Bioetanol, Mensesneg: �Rapat Paling Pagi yang Saya Ikuti�
Senin, 21 September 2026 15:52:08 M. Digi
Jakarta � Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memimpin rapat persiapan program bioetanol sejak pukul 06.00 WIB, Senin (21/9/2026). Rapat yang diikuti 44 bupati dari berbagai daerah tersebut turut dihadiri Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi melalui konferensi video. Prasetyo menyebut rapat ini sebagai rapat paling pagi yang pernah diikutinya selama dua tahun menjabat.
�Terima kasih, Pak Mentan Amran, kami diizinkan bergabung. Ini sejarah bagi saya, rapat paling pagi yang saya ikuti selama dua tahun,� kata Prasetyo.
Prasetyo mengatakan bahwa selama ini ia memantau pola kerja Kementerian Pertanian (Kementan) yang menurutnya berbeda dari ritme kerja biasa. Hal tersebut, kata dia, tidak terlepas dari besarnya tugas dan tanggung jawab Kementan dalam menjaga pangan nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
�Kami monitor cara bekerja di Kementan, bukan cara kerja biasa karena tugas dan tanggung jawab luar biasa sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga pangan,� ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Mentan Amran mengatakan bahwa rapat pada pagi buta bukan sesuatu yang asing bagi jajaran Kementan. Ritme kerja tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan berbagai agenda strategis pertanian berjalan cepat.
�Ini kami minta maaf karena undang rapat pagi-pagi. Maaf, kami terbiasa rapat dari dini hari bahkan tidak ada tanggal merah untuk Kementan,� ucapnya.
Dalam pertemuan bersama 44 bupati dari berbagai provinsi, Mentan Amran menjelaskan bahwa pemerintah mulai mengarahkan perhatian pada pengembangan bioetanol setelah capaian swasembada pangan dan penguatan biodiesel.
�Pangan selesai, sudah delapan komoditas kita swasembada, bahkan ekspor. Biodiesel selesai, tidak impor. Sekarang kita masuk ke bioetanol E20,� jelas Mentan Amran.
Menurutnya, pengembangan bioetanol menjadi bagian dari langkah menuju kemandirian energi nasional. Indonesia memiliki sejumlah sumber bahan baku potensial, antara lain tebu, singkong, dan jagung, yang pengembangannya akan disesuaikan dengan kondisi agroklimat dan keunggulan masing-masing daerah.
�Bapak Ibu Bupati nanti disesuaikan. Kita cocok tanam berdasarkan agroklimat, keunggulan komparatif, budaya setempat,� ujarnya.
Mentan Amran mengatakan tebu menjadi salah satu komoditas yang akan mendapat perhatian dalam program tersebut. Belajar dari Brasil, selain menghasilkan etanol, tebu juga dapat diarahkan untuk produksi gula sesuai kondisi harga dan kebutuhan pasar.
�Seperti Brasil. Kalau harga tinggi jadikan gula, kalau rendah jual etanol. Ini semua kita ada sumber daya alamnya. Persoalannya mau tanam atau tidak,� katanya.
Untuk mendukung implementasi E20 hingga 2029, pemerintah memperkirakan kebutuhan bioetanol mencapai sekitar 5,53 juta kiloliter. Mentan Amran mengatakan pembangunan industri pengolahan juga tengah dipersiapkan untuk memastikan ketersediaan bahan bakar nabati tersebut.
�Ini mimpi kita, etanol. Penghasil etanol pengganti bensin. Sawit juga bisa masih dikerjakan. Ini kita kaya sumber daya alam,� ujarnya.
Ia menekankan, pengembangan bioetanol tidak hanya berorientasi pada penyediaan energi, tetapi juga harus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat daerah dan petani. Karena itu, pemerintah mendorong skema kemitraan yang memberikan ruang signifikan bagi rakyat.
�Ini tidak boleh monopoli. Minimal 30 persen rakyat. Jadi rakyat menikmati. Ini dia tumbuh bersama nanti perusahaan. Sekarang tidak boleh di bawah 20, harus 30 persen untuk rakyat. Harus tumbuh bersama kalau negara mau kuat. Ini yang kita dorong ekonomi rakyat,� tegasnya.
Mentan Amran menilai kesejahteraan petani dapat didorong melalui kepastian pasar dan harga yang menguntungkan. Menurutnya, petani Indonesia memiliki kemampuan untuk mendukung agenda besar pemerintah sepanjang mendapatkan insentif ekonomi yang memadai.
�Mudah membuat sejahtera petani. Caranya buat harga menguntungkan. Petani kita hebat. Tapi kata kuncinya adalah beri harga yang menguntungkan. Republik ini bergerak,� katanya.
Karena itu, Amran meminta dukungan aktif para kepala daerah dalam menyiapkan lahan dan memastikan program pengembangan bahan baku berjalan sesuai potensi wilayah masing-masing.
�Tanpa bupati tidak mungkin kita bisa bergerak banyak,� ujarnya.
Di akhir pertemuan, Amran menyampaikan apresiasi kepada para bupati yang hadir dan menyatakan kesiapan mendukung program pengembangan bioetanol. Menurutnya, kolaborasi pusat dan daerah menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.