KEMENTERIAN PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA

ID EN

Kementan Perkuat Adaptasi Iklim Hadapi Potensi Musim Kering Guna Jaga Produksi Kopi Nasional


Senin, 31 Agustus 2026 10:03:15 M. Digi

Jakarta � Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat langkah adaptasi perubahan iklim untuk menjaga produktivitas kopi nasional menjelang periode kering yang diperkirakan terjadi pada September�November 2026. Berbagai langkah mitigasi telah disiapkan mulai dari penguatan konservasi tanah dan air, penyediaan benih adaptif, pemanfaatan informasi iklim, hingga pendampingan intensif kepada pekebun di sentra-sentra produksi kopi.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa perubahan iklim harus diantisipasi sejak dini agar tidak mengganggu produksi dan kualitas kopi nasional yang menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia.

�Mitigasi terus diperkuat melalui penerapan budidaya adaptif, penggunaan benih unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim, serta pendampingan kepada pekebun agar produksi tetap terjaga,� kata Mentan Amran.

Berdasarkan pemetaan potensi kekeringan dan sentra produksi kopi periode September�November 2026, sekitar 28 persen areal kopi pada wilayah yang dipetakan berpotensi mengalami kondisi kering. Namun, Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan angka tersebut merupakan potensi berdasarkan prediksi iklim dan bukan menunjukkan terjadinya kerusakan tanaman akibat kekeringan.

Kondisi aktual di lapangan sangat dipengaruhi oleh perkembangan curah hujan, ketersediaan air, karakteristik lahan, serta kemampuan kebun dalam menerapkan langkah-langkah adaptasi. Oleh karena itu, Kementan terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan langkah antisipasi dapat dilakukan lebih cepat.

Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Heru Tri Widarto mengatakan kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim harus menjadi bagian dari pengelolaan kebun sehari-hari, bukan hanya dilakukan saat kondisi ekstrem terjadi.

�Mitigasi harus menjadi bagian dari pengelolaan kebun sehari-hari. Melalui pengelolaan air yang baik, konservasi tanah, pemanfaatan informasi iklim, dan penerapan praktik budidaya adaptif, produktivitas perkebunan dapat tetap terjaga di tengah tantangan perubahan iklim,� kata Heru dalam keterangannya pada Rabu (26/8/2026)..

Salah satu strategi yang terus didorong adalah penerapan Good Agricultural Practices (GAP) yang adaptif terhadap perubahan iklim. Praktiknya mencakup konservasi tanah dan air, pengelolaan tanaman penaung, pemanfaatan bahan organik, hingga penerapan teknik budidaya sesuai karakteristik wilayah.

Di tingkat kebun, pekebun didorong memanfaatkan rorak dan lubang biopori untuk meningkatkan infiltrasi serta mempertahankan cadangan air dalam tanah. Pengelolaan tanaman penaung juga terus diperkuat untuk menjaga mikroklimat kebun dan mengurangi kehilangan air selama periode kering.

Selain itu, pemerintah terus melakukan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan kepada pekebun serta petugas lapangan. Informasi prakiraan iklim dipadukan dengan laporan kondisi pertanaman guna mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan langkah antisipasi lebih awal.

Kementan juga menyediakan benih kopi varietas yang adaptif terhadap perubahan iklim di sejumlah sentra produksi. Dukungan lainnya berupa bantuan benih dan pupuk organik bagi wilayah perkebunan kopi yang terdampak bencana di Sumatra. Upaya penguatan ketahanan kebun turut dilakukan melalui integrasi tanaman kopi dengan ternak untuk mendukung ketersediaan pupuk organik dan memperbaiki kualitas tanah.

Sejumlah sentra kopi yang menjadi perhatian dalam pemantauan meliputi Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Bali, Banten, Nusa Tenggara Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Langkah antisipasi tersebut menjadi penting mengingat kopi merupakan komoditas strategis yang menopang penghidupan jutaan pekebun sekaligus salah satu andalan ekspor Indonesia. Pada 2024, produksi kopi nasional tercatat sekitar 813 ribu ton kopi berasan.

Berdasarkan Angka Tetap Buku Statistik Perkebunan 2024�2026, luas areal kopi Indonesia pada 2024 mencapai 1.273.918 hektare. Luasan tersebut terdiri atas 976.435 hektare tanaman menghasilkan (TM), 186.453 hektare tanaman belum menghasilkan (TBM), serta 111.030 hektare tanaman tidak menghasilkan/tanaman rusak (TTM/TR).

Luas areal kopi juga diproyeksikan terus bertambah. Berdasarkan angka sementara, areal kopi diperkirakan mencapai 1.275.908 hektare pada 2025 dan meningkat menjadi 1.281.491 hektare pada 2026. Pada 2026, areal tersebut terdiri atas 977.799 hektare TM, 187.794 hektare TBM, dan 115.898 hektare TTM/TR.

Dengan luasan yang terus berkembang tersebut, penguatan adaptasi iklim menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan produksi dan daya saing kopi Indonesia.

Ke depan, Kementan akan terus memperkuat produktivitas, kualitas, dan daya saing kopi nasional melalui budidaya adaptif, penguatan sarana dan prasarana, pemanfaatan informasi iklim, serta pendampingan berkelanjutan kepada pekebun. Dengan langkah tersebut, perubahan iklim tidak hanya dihadapi sebagai tantangan, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun perkebunan kopi Indonesia yang semakin tangguh, produktif, dan berkelanjutan.


Aksesibilitas

Kontras
Saturasi
Pembaca Layar
D
Ramah Disleksia
Perbesar Teks
Jarak Huruf
Jarak Baris
Perataan Teks
Jeda Animasi
Kursor
Reset