KEMENTERIAN PERTANIAN
REPUBLIK INDONESIA

ID EN

Pemeliharaan Irigasi Tersier Capai 76 Persen, Tanam Padi Didorong hingga Tiga Kali


Senin, 7 September 2026 10:09:45 M. Digi

BANDUNG � Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat pembenahan dan pemeliharaan jaringan irigasi tersier untuk memastikan ketersediaan air sekaligus meningkatkan frekuensi tanam di tengah musim kemarau dan potensi El Nino. Hingga saat ini, realisasi fisik pengelolaan operasional dan pemeliharaan (OP) irigasi tersier telah mencapai 76 persen atau 6.861 unit dari target 9.000 unit.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan optimalisasi infrastruktur dan sumber air harus diarahkan bukan hanya untuk menyelamatkan pertanaman saat kemarau, tetapi juga meningkatkan indeks pertanaman. Lahan yang sebelumnya hanya dapat ditanami dua kali didorong agar mampu berproduksi hingga tiga kali dalam setahun.

�Ini harus kita resonansikan ke seluruh Indonesia. Dulu tanam dua kali, bisa tiga kali. Nanti kita sisir seluruh Jawa dan luar Jawa. Kita sisir semua yang ada sumber air, kita pasangkan pompa,� kata Mentan Amran.

Arahan tersebut menjadi bagian dari strategi Kementan dalam mengoptimalkan setiap sumber air yang tersedia. Pembenahan irigasi tersier dilakukan agar pasokan air dari jaringan irigasi dapat menjangkau lahan secara lebih optimal, terutama pada wilayah yang menghadapi keterbatasan air selama musim kemarau.

Direktur Irigasi Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Liferdi Lukman, mengatakan percepatan pengelolaan air menjadi salah satu kunci menjaga keberlanjutan produksi pertanian. Berdasarkan hasil evaluasi nasional, realisasi fisik pengelolaan OP irigasi tersier di daerah dan pusat telah mencapai 76 persen.

�Untuk mengantisipasi kemarau dan El Nino ini, ada tiga langkah utama yang kami siapkan. Pertama, memanfaatkan air permukaan melalui perbaikan saluran irigasi tersier, perpipaan, dan pompanisasi agar air sampai ke sawah. Kedua, jika air permukaan terbatas, kita manfaatkan air tanah melalui sumur bor atau jaringan irigasi air tanah (JIAT) pada wilayah cekungan air tanah. Ketiga, jika terjadi puso yang tidak bisa diselamatkan, Kementan telah menyiapkan bantuan benih gratis untuk percepatan tanam berikutnya,� ujar Liferdi pada Rapat Koordinasi dan Evaluasi Pengelolaan Operasional dan Pemeliharaan (OP) Irigasi Tersier di Bandung (3/9).

Menurut Liferdi, pemeliharaan dan pengelolaan jaringan irigasi menjadi semakin penting karena ketersediaan air menentukan kemampuan petani mempertahankan musim tanam sekaligus meningkatkan produktivitas lahan.

Kementan tidak hanya mengandalkan jaringan irigasi sebagai sumber air. Berbagai sumber air permukaan dan air tanah dioptimalkan melalui pompanisasi, pembangunan irigasi perpipaan, sumur bor, embung, serta jaringan irigasi air tanah. Pendekatan tersebut memungkinkan lahan pertanian yang memiliki sumber air tetap berproduksi meskipun memasuki periode kemarau.

Sumber air yang tersedia harus dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan produktivitas lahan. Menurutnya, pengalaman program pompanisasi sebelumnya menunjukkan

Berdasarkan penanganan mitigasi kekeringan pada Tahun 2015 dan 2023, intervensi terhadap ketersediaan air harus dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan produktivitas lahan. Pemasangan sekitar 100 ribu unit pompa mampu memberikan tambahan produksi hingga 2,8 juta ton gabah di Pulau Jawa. Karena itu, pemerintah terus memperluas optimalisasi sumber air dengan memadukan pompanisasi dan pembenahan jaringan irigasi.

Selain menjamin ketersediaan air, Kementan juga mendorong penerapan teknologi budidaya yang lebih efisien. Liferdi menjelaskan bahwa musim kemarau tidak selalu menjadi hambatan bagi produktivitas apabila pengelolaan air dilakukan secara tepat.

�Secara teknis, produktivitas padi saat musim kemarau justru bisa meningkat hingga 2 ton per hektare dibandingkan musim hujan karena intensitas sinar matahari yang optimal. Padi bukan tanaman air, sehingga penerapan pola hemat air seperti Alternating Wetting and Drying (AWD) atau macak-macak sangat efektif. Inilah yang sedang kita dorong melalui Pertanian Modern atau Advanced Agriculture System,� jelasnya.

Kementan juga memperkuat pengawasan dan pengelolaan sumber air di sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan, antara lain Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Penanganan dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta jajaran penyuluh pertanian.

�Sinergi kami dengan Kementerian PU sangat nyata. Kementerian PU menangani saluran primer dan sekunder, sementara Kementan melanjutkan penanganannya di jaringan tersier. Bahkan untuk normalisasi sungai yang terkendala operasional, Kementan siap mendukung suplai BBM alat berat. Kita bersama-sama mengeksekusi Inpres Nomor 2 Tahun 2025 tentang Irigasi demi menuntaskan pembenahan infrastruktur pengairan,� tambah Liferdi.

Penguatan jaringan irigasi tersier menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan indeks pertanaman. Infrastruktur pengairan yang berfungsi optimal dan sumber air yang tersedia harus menghasilkan dampak langsung terhadap produktivitas dan kesejahteraan petani. Karena itu, pembenahan jaringan air terus diarahkan pada wilayah yang memiliki potensi peningkatan indeks pertanaman.

Kementan optimistis percepatan pemeliharaan irigasi dan optimalisasi berbagai sumber air dapat menjadi fondasi untuk mendorong pertanian yang lebih produktif dan adaptif terhadap perubahan iklim. Targetnya, musim kemarau tidak menjadi alasan untuk mengurangi aktivitas tanam, tetapi menjadi momentum untuk mengoptimalkan lahan sehingga mampu menghasilkan hingga tiga kali dalam setahun.


Aksesibilitas

Kontras
Saturasi
Pembaca Layar
D
Ramah Disleksia
Perbesar Teks
Jarak Huruf
Jarak Baris
Perataan Teks
Jeda Animasi
Kursor
Reset