Kementan dan TNI Kebut Cetak Sawah 7.000 Hektare di OKI, Percepat Produksi Menuju Swasembada Pangan
Kamis, 23 Juli 2026 15:13:24 M. Digi
Ogan Komering Ilir � Kementerian Pertanian (Kementan) bersama TNI mempercepat pembukaan 7.000 hektare sawah baru di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, sebagai bagian dari percepatan program cetak sawah nasional untuk meningkatkan produksi pangan dan memperkuat swasembada pangan. Dalam waktu sekitar 20 hari sejak pekerjaan dimulai, lebih dari 130 hektare lahan telah berhasil dibuka, menunjukkan percepatan yang signifikan di salah satu kawasan prioritas pengembangan sawah baru nasional.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa program cetak sawah merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan.
"Kita harus menambah luas tanam dan meningkatkan produktivitas. Itu kunci menuju swasembada pangan," tegas Mentan Amran.
Sebagai bentuk pengawalan percepatan program tersebut, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) bersama Inspektorat Jenderal melakukan supervisi dan monitoring langsung terhadap proyek cetak sawah di Desa Tanjung Baru, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Selasa (21/7/26).
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, mengatakan Provinsi Sumatera Selatan memperoleh target perluasan cetak sawah seluas 13.000 hektare, dengan 7.000 hektare berada di Kabupaten OKI. Di Desa Tanjung Baru sendiri, luas lahan yang tengah dikerjakan mencapai 230 hektare dengan tahapan konstruksi mulai dari land clearing, land leveling, hingga pengolahan tanah siap tanam.
"Kegiatan konstruksi cetak sawah ini baru dimulai di awal Juli dengan target penyelesaian 90 hari. Namun dalam waktu sekitar 20 hari saja, sudah lebih dari 130 hektare lahan yang terbuka dan pengolahan tanah mencapai 30 hektare. Progres ini sangat cepat dan sesuai dengan harapan kita," ujar Hermanto.
Selain memastikan percepatan fisik di lapangan, Kementan juga mengawal seluruh proses administrasi agar berjalan transparan dan akuntabel. Inspektur Jenderal Kementan, Letjen TNI (Purn) Irham Waroihan, S.Sos., menegaskan pelaksanaan kegiatan swakelola berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
"Semua sudah on schedule dan secara administrasi tidak ada yang menyimpang. Kami sangat mengapresiasi jajaran Kopassus karena di tahap persiapan sudah langsung menurunkan alat dan beraksi dengan cepat di lapangan," kata Irham.
Sinergi antara Kementan dan TNI menjadi kunci percepatan pembukaan lahan di kawasan yang memiliki tantangan teknis cukup tinggi. Mewakili pelaksana teknis, Kolonel TNI Damai Laksmono, menjelaskan pihaknya memanfaatkan kondisi cuaca saat ini sebagai momentum terbaik untuk mempercepat pekerjaan.
"Kami berupaya menyiasati kondisi alam dengan segera memasukkan alat berat. Pada saat yang sama, kami menyinkronkan kegiatan olah lahan ini dengan Brigade Pangan, sehingga begitu lahan selesai diolah, pasokan pupuk dan benih diharapkan sudah siap agar petani bisa langsung melaksanakan tanam," jelas Damai.
Program ini juga mendapat sambutan positif dari masyarakat. Kepala Desa Tanjung Baru sekaligus petani, Abu Bakar, berharap lahan yang selama ini terbengkalai dapat segera menjadi sumber produksi pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
"Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas nama masyarakat Desa Tanjung Baru. Mudah-mudahan lahan yang selama ini tidak terjamah ini bisa menjadi lahan yang produktif, sehingga dengan itu taraf kehidupan kami bisa menjadi makmur," ujar Abu Bakar.